TRIBUN Wiki

TRIBUN-MEDAN-WIKI: Menyelisik Jejak Rumah Pengasingan Soekarno di Parapat

Bangunan berkonsep seperti bangunan yang sering digunakan oleh masyarakat di negara-negara Eropa pada awal abad ke 19.

Tayang:
Editor: Salomo Tarigan
T ri bun-Medan.com/Arjuna Bakkara
Pesanggrahan Soekarno di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. 

Lalu Bung Karno membersihkan tulang paha ayam agar bisa menyelipkan surat di bagian dalam tulang tersebut.

Setelah itu, Bung Karno memberitahukan kepada Sitindaon dan Buka Sinaga, untuk menyampaikan surat yang di dalam tulang ayam tersebut kepada gerilyawan Indonesia. Begitu juga ketika Presiden Sukarno jalan-jalan di luar rumah. Ia meminta tolong kepada Buka Sinaga dibawakan sayur kangkung.

Dari batang kangkung itulah Soekarno memasukkan surat untuk diberikan kepada gerilyawan Indonesia. Hingga, informasi sampai kepada TNI, kemudian diutus pasukan untuk menjemput Bung Karno di Parapat.

Lalu, prajurit TNI dan para pejuang gerilyawan kemudian bergerak mengepung Parapat, baik dari daratan maupun kawasan Danau Toba.

Akan tetapi, gerakan TNI tersebut ditahan oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir, dengan alasan mau dipindahkan ke Bangka.

Akhirnya Bung Karno dibawa ke Bangka pada Maret 1949, dan bertemu dengan pemimpin lainnya, antara lain Bung Hatta.

Begitulah cerita pengasingan Bung Karno di Parapat.

Maka, wajar saat ini rumah pengasingan atau pesanggarahan Bung Karno di Parapat sering dikunjungi mahasiswa dan akedemisi serta masyarkat yang ingin mengetahui sejarah terkati pengasingan Bungkarno di Parapat.

Memang pada rumah tersebut, bukti keberadaan Bung Karno terlihat dari beberapa lukisan dan perabotan rumah yang dulu dipakai oleh beliau.

Beberapa diantaranya seperti Ruang dan tempat tidur, kursi ukir, lukisan, foto, koleksi buku, dan lainnya masih terawat dengan baik di rumah tersebut.

Pesanggrahan Soekarno di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Pesanggrahan Soekarno di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. (T ri bun-Medan.com/Arjuna Bakkara)

Selain itu, rumah pesanggrahan ini sangat cukup menarik perhatian, sebab bangunan ini mengadopsi arsitektur bangunan bergaya klasik.

Bangunan berkonsep seperti bangunan yang sering digunakan oleh masyarakat di negara-negara Eropa pada awal abad ke 19.

Dalam sebuah seni arsitektur, bangunan tersebut disebut indische architectur yang cukup populer masa itu.

Tak hanya itu saja, di rumah pengasingan Bung Karno ini para wisatwan dapat melihat panorama keindahan danau Toba.

Danau yang membentang luas dengan air yang hijau kebiru-biruan, serta bukit-bukit dan pepohonan yang mengeliling danau tersebut.

Sumber:

-          Sejarawan Kota Medan, M Aziz Rizky  

-          Mangasi Sinaga merupakan generasi ketiga dari Buka Sinaga yang merupakan Pegawai Bung Karno ketika di Parapat.

(cr22/t ri bun-medan.com)  

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved