Pariwisata Bergeliat, Masyarakat Luar Medan Mulai Kunjungi Museum

Dalam membuka operasionalnya di masa pandemi ini, pengelola museum ini menjalankan protokol kesehatan

Tribun Medan
Seorang pengunjung tengah berada di dalam Museum Tjong A Fie Mansion di Jalan Ahmad Yani Medan, Selasa (1/9/2020). Pengelola mengaku sejak dibuka penerbangan domestik, pengunjung yang datang ke museum ini bukan hanya warga Medan, namun juga dari daerah lainnya di dalam negeri. Tribun Medan/Septrina Ayu Simanjorang 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Kembali dibukanya penerbangan domestik, ternyata berdampak positif bagi kunjungan ke museum. Misalnya Museum Tjong A Fie Mansion di Jalan Ahmad Yani Medan. Pengelola mengaku sejak dibuka penerbangan domestik, pengunjung yang datang ke museum ini bukan hanya warga Medan, namun juga dari daerah lainnya di dalam negeri.

"Saat dibuka penerbangan domestik, pengunjung ada dari Bandung. Sebenarnya tujuan ke Medan untuk urusan pekerjaan, namun mampir ke museum untuk berwisata. Saat libur panjang di Agustus lalu, ada jumlah kunjungan yang cukup tinggi yakni 30 orang," kata Rudiansyah Wakil Pengelola Museum Tjong A Fie, Selasa (1/9/2020).

Pengelola Museum Tjong A Fie Ajak Masyarakat Hidupkan Kembali Wisata Sejarah

Ia mengatakan ini merupakan jumlah kunjungan terbanyak pasca museum dibuka kembali pada 4 Juli 2020 lalu. Diakuinya, sejak ditutup sementara pada akhir Maret, jumlah kunjungan ke museum ini belum kembali seperti semula. Dalam sehari hanya ada beberapa pengunjung atau bahkan tidak ada pengunjung sama sekali.

"Setelah dibuka kembali, kita lihat di tengah pandemi ini minat orang berkunjung ke museum menurun drastis karena sebagian masyarakat diam di rumah untuk memastikan kondisi di luar cukup aman. Pengunjung banyak yang mau datang karena sudah rindu untuk datang ke tempat wisata seperti museum," jelasnya.

Padahal kata Rudi, sebelum adanya pandemi ini, dalam sehari kunjungan ke museum ini bisa mencapai 30 orang, bahkan saat akhir pekan kunjungan bisa di atas 50 orang. Dalam membuka operasionalnya di masa pandemi ini, pengelola museum ini menjalankan protokol kesehatan dan melakukan pembatasan jumlah pengunjung.

"Kita membatasi hanya 50 pengunjung per hari. Jika sudah mencapai 50 orang, kita enggak terima kunjungan lagi. Meski pun begitu, sampai sekarang belum pernah ada kunjungan sampai 50 orang," katanya.

Sementara untuk waktu kunjungan, satu pengunjung dibatasi maksimal 20 menit untuk mengelilingi museum. Sedangkan saat kunjungan tidak ramai, waktu kunjungan tidak dibatasi.
"Kalau datang berkelompok juga kita bagi jumlah orangnya, enggak bisa masuk sekaligus. Untuk biaya masuknya Rp 35 ribu untuk dewasa dan Rp 20 ribu untuk anak-anak. Sedangkan untuk rombongan mulai 10 orang ada harga spesial," kata Rudi.

Museum ini buka mulai pukul 09.00 sampai jam 17.00 WIB. Sebelumnya untuk pihaknya juga sudah memanfaatkan digitalisasi selama adanya pandemi ini.

"Beberapa waktu lalu, kita bekerja sama dengan salah satu platform juga untuk menggelar virtual tour. Sehingga masyarakat yang ada di luar Medan bisa merasakan berwisata secara digital melalui aplikasi. Dalam gelaran itu kita juga memberikan beberapa promo menarik untuk peserta," pungkasnya.

Kunjungan ke museum-museum yang ada di Kota Medan hingga saat ini masih minim. Bahkan beberapa museum belum kembali beroperasional pasca ditutup sementara karena adanya pandemi Covid-19.

Misalnya Museum Perkebunan Indonesia yang ada di Jalan Brigjen Katamso sejak Maret 2020 hingga kini masih ditutup. Sebab pengunjung paling banyak didominasi anak-anak sekolah. Sementara anak-anak sekolah juga masih libur.

"Jadi, kami manfaatkan waktu tutup untuk pembenahan dan pembenahan museum, untuk staf mengikuti pelatihan-pelatihan secara virtual untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dan kami menerima kunjungan khusus, mahasiswa sedang penelitian dan tamu lainnya," kata Kepala Museum Perkebunan Indonesia, Sri Hartini yang juga mantan Kepala Museum Sumut.

Diungkapkannya pembukaan kembali museum tergantung dari pemerintah daerah. Meski sudah diizinkan buka namun semua tergantung museumnya masing-masing.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved