SADIS, Polisi Hajar Dua Buruh Bangunan hingga Babak Belur saat Pembubaran Aksi Mahasiswa
Keduanya baru saja menyelesaikan pekerjaan sebagai buruh di sebuah pembangunan gedung di wilayah Anduonohu.
Dalam peristiwa itu, tak hanya dua buruh bangunan yang diamankan di Mapolda Sultra, ada 17 mahasiswa yang juga digiring ke Polda Sultra.
TRIBUN-MEDAN.com - Dua buruh bangunan di kota Kendari, yakni La Duma (29) dan La Iwan (29) diduga menjadi korban kekerasan polisi saat aksi mahasiswa memperingati satu tahun kematian dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi.
Aksi yang dikenal September Berdarah (Sedarah) digelar pada Sabtu (26/9/2020).
Aksi penganiayaan oleh sejumlah polisi bermula saat La Duma dan La Iwan berboncengan untuk membeli makanan. Keduanya melintasi Bundaran Gubernur usai shalat maghrib.
La Iwan yang tengah mengendarai motor saat itu, sempat diminta untuk berbalik arah karena ada pembubaran demo mahasiswa oleh polisi.
Keduanya baru saja menyelesaikan pekerjaan sebagai buruh di sebuah pembangunan gedung di wilayah Anduonohu.
• Shireen Sungkar Bongkar Tabiat Buruk Teuku Wisnu hingga Kesiapan Dipoligami
• Artis Adinia Wirasti Trauma saat Kariernya Berada di Puncak, Merasa Banyak Tekanan, Begini Kisahnya
Saat itu, ia mengaku dipukuli pakai pentungan oleh sejumlah polisi yang menggunakan pakaian seragam lengkap dan ada yang mengenakan pakaian sipil.
“Belum lama putar motor, dari samping sini (kiri-kanan) pukul saya punya helm, baru tulisannya itu helm Taknik. Ada yang pukul, ada juga yang larang memukul. Saya bilang saya tidak tahu apa-apa ini,” kata Iwan dihubungi, Senin (28/9/2020).
Ia sempat berteriak sebagai buruh bangunan, namun dirinya tetap saja dibawa ke Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sultra.
Akibat pukulan itu, tangan kanan ayah dua anak ini bengkak dan merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya.
“Saya sempat ditanya-tanya di Bundaran Gubernur, tapi mereka bilang saya dibawa saja di kantor, nanti saya kasih keterangan di sana,” ujarnya.
Hal yang sama juga dialami La Duma. Ia tiba-tiba dipukul dan dikeroyok oleh sejumlah polisi, padahal ia tak mengetahui aksi demo yang dilakukan oleh mahasiswa.
Duma menceritakan, ia bersama iparnya La Iwan hendak melintas di bundaran kantor gubernur membeli ayam potong untuk adiknya.
• Instruksi Megawati, PDIP Sumut Bentuk Tim Penegakan Disiplin Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19
• Sindiran Warganet Wajah Suami Baru Meggy Wulandari Mirip Kiwil: Tapi Masih Gantengan yang Lama
“Ada yang pukul di belakang langsung saya jatuh setelah itu dikeroyok, turun mi darah dari kepala. Saya berteriak saya bukan mahasiswa, saya pekerja bangunan,” ungkap Duma.
Usai dipukul, ia megalami pusing sehingga tak tahu berapa banyak pukulan dan tendangan yang dihujamkan polisi ke tubuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/dua-buruh-bangunan-yakni-la-iwan-dan-la-duma.jpg)