Kena Batunya, Jerman Bereaksi Keras dan Ultimatum Raja Thailand, Berkat Aksi Mahasiswa 21 Tahun
Raja Maha Vajiralongkon tinggal di villa mewah di Jerman dan menjalankan tahta kerajaannya hingga memicu protes di Thailand dan di Jerman sendiri.
Seruan reformasi monarki semakin bergema dalam aksi unjuk rasa yang dihadiri oleh puluhan ribu rakyat Thailand akhir pekan lalu di Bangkok.
Jagad media sosial Thailand juga tak kalah ramainya. Tanda pagar (tagar) #RepublicofThailand menjadi tren di Thailand pada Jumat setelah parlemen menunda menanggapi permintaan pengunjuk rasa untuk perubahan konstitusi.
Plakat simbolis yang dipasang di pot bunga di depan vila Raja Maha menyerupai salah satu plakat yang dipasang di dekat Istana Kerajaan di Bangkok akhir pekan lalu.
Raja Maha telah naik takhta sejak 2016 tetapi menghabiskan sebagian besar waktunya di Jerman, tempat putranya yang berusia 15 tahun bersekolah.
Gaya hidup sang raja telah lama menjadi makanan bagi tabloid Jerman, bahkan ketika dia masih menjadi Putra Mahkota.
Sementara di Thailand, kehidupan glamour Raja Maha di Jerman tidak dimuat di media arus utama di negara tersebut.
Pasalnya, di Negeri “Gajah Putih” undang-undang lese majeste menetapkan hukuman penjara hingga 15 tahun bagi siapa pun yang menghina monarki.
Pengunjuk rasa Thailand mengeluh tentang biaya dan gaya hidup raja mereka Eropa serta ketidakhadirannya dari kerajaan.
Para pengunjuk rasa di Thailand berusaha untuk mengurangi kekuasaan raja di bawah konstitusi dan juga untuk menghilangkan kendali langsung atas kekayaan kerajaan senilai puluhan miliar dollar AS dan beberapa unit tentara.
Sosok Mahasiswa 21 Tahun
Seorang tokoh di balik protes monarki Thailand adalah Panusaya Sithijirawattankul seorang mahasiswa berusia 21 tahun.
Dengan belasan ribu orang menghadiri sebuah unjuk rasa baru-baru ini tidak jauh dari Grand Palace di Bangkok, Panusaya menyampaikan protes terhadap sistem politik dan kerajaan yang ada saat ini di Thailand.
Di depan layar besar yang memancarkan gambarnya Panusaya, akrab dipanggil Rung, berbicara dalam unjuk rasa terbesar anti-sistem kerajaan sejak tahun 2014 ketika Jenderal Prayuth Chan-O-Cha mengambil alih kekuasaan lewat kudeta.
"Kita memiliki ideologi yang sama, niat yang sama, tujuan yang sama: mengakhiri rezim Prayuth, dan melakukan reformasi terhadap kerajaan, bukankah begitu?" katanya yang disambut meriah oleh peserta unjuk rasa.
Tanpa rasa takut terhadap aturan hukum yang melarang warga menghina raja, Rung dengan suara lantang mengatakan keinginannya agar keluarga kerajaan memiliki kuasa lebih sedikit di dunia politik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/jerman-bereaksi-keras-dan-ultimatum-raja-thailand.jpg)