Produktif dalam Keterbatasan, Inkluser Power Beri Pelatihan Pemuda Difabel Buat Sabun Cuci Piring

Tama Anugrah, mahasiswa Universitas Negeri Medan berinisiatif mendirikan Komunitas Inkluser Power bagi para pemuda difabel.

Tayang:
Kartika / Tribun Medan
Tim Inkluser Power dan pemuda difabel menunjukkan karya pembuatan sabun cuci piring, Selasa (27/10/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com - Sumpah Pemuda menjadi momen pemuda terus berkontribusi dalam memajukan bangsa. Namun, pemuda dalam keterbatasan fisik juga tetap dapat ikut berkontribusi tanpa harus kehilangan asa.

Berangkat dari ingin membantu penyitas difabel lebih membuka diri dan meningkatkan kepercayaan diri, Tama Anugrah, mahasiswa Universitas Negeri Medan berinisiatif mendirikan Komunitas Inkluser Power bagi para pemuda difabel.

Tama mengungkapkan bahwa hal yang melatarbelakangi berdirinya komunitas ini saat ia mengunjungi Sekolah Luar Biasa (SLB) di Medan untuk kebutuhan mata kuliah.

Ia menuturkan bahwa masih ada stigma masyarakat yang menganggap penyitas difabel tidak dapat berkontribusi bagi lingkungan, dan belum semua lingkungan mendukung tumbuh kembang para pemuda yang memiliki kebutuhan khusus ini.

"Masih banyak stigma masyarakat terhadap teman-teman Difabel, lingkungan yang belum sepenuhnya mendukung tumbuh dan berkembangnya teman-teman Difabel. Kebanyakan guru-guru di sekolah luar biasa yang bisa dibilang berumur dan hampir pensiun, dan banyaknya teman-teman Difabel yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah," ungkap Tama kepada Tribun Medan, Rabu (28/10/2020).

Berdiri sejak tahun 2018, Tama merintis Inkluser Power bersama para mahasiswa lain dengan membantu meningkatkan kepercayaan diri para pemuda difabel dan dapat mandiri.

Berbekal hasil pendapatan menjadi driver ojek online, Tama membelikan beragam keperluan untuk melatih motorik para siswa SLB tersebut.

"Kalau merintis dari awal untuk membeli perlengkapan dan peralatan untuk bermain dengan siswa-siswi SLB, Tama membelinya dengan hasil bekerja menjadi driver ojek online. Hasil dari berkerja itu Tama sisihkan untuk membeli berbagai peralatan dan perlengkapan bermain untuk melatih motorik siswa-siswi SLB," ujarnya.

Inkluser Power awalnya melakukan kerjasama dengan dua SLB, yaitu sekolah SLB-ABC Taman Pendidikan Islam Medan dan SLB-ABC Melati Aisyah Tembung.

Awal Inkluser Power berkegiatan dan mengabdi dengan menjadi guru pendamping di kedua SLB itu. Namun ada 4 orang teman-teman Difabel yang sering inkluser power berikan pelatihan.

Tama menjelaskan bahwa pelatihan yang diberikan berupa pelatihan seperti membuat sabun cuci piring, pelatihan membuat pewangi pakaian, dan pelatihan kewirausahaan.

"Pelatihan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menjadikan teman-teman Difabel hidup dengan kemandirian, berdaya dilingkungan masyarakat, memiliki sikap kompetitif di masyarakat dan tentunya agar teman-teman Difabel terhindar dari pergaulan bebas," kata Tama.

Terkait dengan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari ini, Tama menegaskan bahwa pemuda difabel juga turut dapat berkontribusi untuk terus berkarya, berdaya dan mewujudkan cita-cita dengan keterbatasan yang ada.

"Saya yakin, ada potensi besar pada diri teman-teman Difabel yang harus digali dan diketahui, untuk itu hadirnya Inkluser Power salah satunya membantu teman-teman Difabel untuk menumbuhkan minat dan mengembangkan bakatnya untuk menjadi pribadi kreatif, berdaya dan kompetitif di masyarakat," ujarnya.

Para pemuda difabel juga turut antusias untuk tetap bersemangat berkarya. Hal ini diungkapkan Rojas, penderita Cerebral Palsy atau lumpuh otak yang bersekolah di SLB-ABC Taman Pendidikan Islam Medan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved