Breaking News:

Gubernur Edy Belum Izinkan Sekolah Tatap Muka, Begini Tanggapan Pengamat Ibrahim Gultom

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi hingga saat ini belum memberikan izin kepada sekolah untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka.

TRIBUN MEDAN/HO
PENGAMAT Pendidikan Sumut, Ibrahim Gultom 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tren kasus Covid-19 hingga saat ini terus mengalami penurunan di Sumatera Utara.

Meski begitu, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menegaskan hingga saat ini belum memberikan izin kepada sekolah untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka.

Berkenaan dengan dengan kebijakan tersebut, Pengamat Pendidikan Ibrahim Gultom menilai bahwa kebijakan Edy ini dipertimbangkan setelah adanya koordinasi dengan Satgas Covid-19.

"Yang paling tahu situasinya Satgas Covid-19 ini. Kalau kebijakan gubernur seperti itu ikut saja. Inikan kasus Covid sudah mulai turun, sudah bisa menerapkan protokol kesehatan itu," ungkap Ibrahim kepada Tribun-Medan.com, Senin (9/11/2020).

Walau Gubernur masih belum mengizinkan adanya pembelajaran secara tatap muka, namun kini sudah banyak sekolah khususnya swasta yang sudah menerapkan pembelajaran secara tatap muka.

Ibrahim sendiri tidak mempermasalahkan hal tersebut asal sekolah wajib menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Ia menuturkan sebaiknya pihak pemerintah terus melakukan monitoring kepada pihak sekolah untuk disiplin dengan protokol kesehatan, tanpa harus ada sanksi.

"Saya kira tidak ada salahnya walau tetap harus menjaga protokol kesehatan. Untuk pembukaan secara total sudah perlu ditinjau. Sekolah di Medan juga harus selalu dimonitoring ataupun disarankan untuk menjalankan protokol kesehatan.

Saya kira jika sekolah menerapkan protokol kesehatan, Insha Allah Covid-19 akan berakhir. Jadi tidak perlu sanksi kecuali mereka tidak mengindahkan hal itu," tutur Ibrahim.

Tambahnya, Ibrahim mengatakan jika pembelajaran tatap muka dengan sistem shift dapat menjadi salah satu solusi agar siswa dan guru dapat tetap ada interaksi secara langsung dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Kalau tidak sepenuhnya tatap muka, perlu dikaji pelaksanaan tatap muka dengan ketentuan seperti pembatasan waktu seperti maksimal satu jam untuk 20 orang lebih dulu secara bergantian. Ini supaya jangan total kali tidak ada komunikasi antara guru dan murid," ujarnya.

Hingga saat ini, sekolah baik di kota ataupun di daerah menggunakan segala macam inovasi pembelajaran mulai dari lewat virtual, penjemputan materi pelajaran ataupun lewat sistem shift.

"Ini bermacam-macam ada yang virtual ataupun langsung. Beragam sekarang model pembelajarannya. Ada juga yang buat daring itu untuk sekolah bonafit. Memang sekarang makin banyak mata pelajaran yang dibebankan kepada anak-anak itu. Artinya dipaksa mereka membaca.

Jadi tidak ada persoalan sebenarnya jika sekolah sudah bisa tatap muka tapi mereka yang lebih tahu kondisi saat ini. Kita tetap menghargai kebijakan itu," ungkap Ibrahim.

(cr13/tribun-medan.com)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved