Breaking News:

Perayaan Tahun Baru Imlek di Sumut

Perayaan Imlek di Vihara Gautama Widya Sepi, Tradisi Barongsai dan Wayang Kulit Ditiadakan Tahun Ini

Berdasarkan informasi dari pengurus vihara, Arifin, disebutkan bahwa kondisi perayaan Imlek ini begitu jauh berbeda dibanding tahun lalu.

TRIBUN MEDAN/KARTIKA
VIHARA Gautama Widya, Jalan Kol Yos Sudarso, Tj Mulia, Kecamatan Medan Deli tampak sepi dari aktivitas umat Tionghoa melakukan ibadah, Jumat (12/2/2021). 

Tribun-Medan.com, Medan - Pandemi Covid-19 membuat hampir seluruh vihara maupun klenteng membatasi jumlah kunjungan untuk mengantisipasi adanya kerumunan dalam perayaan Imlek 2021.

Kondisi ini juga terjadi di Vihara Gautama Widya, Jalan Kol Yos Sudarso, Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli.

Vihara ini tampak sepi tanpa ada tampak umat Tionghoa melakukan ibadah, Jumat (12/2/2021).

Berdasarkan informasi dari pengurus vihara, Arifin, disebutkan bahwa kondisi perayaan Imlek ini begitu jauh berbeda dibanding tahun lalu.

Dikatakannya, ada perubahan mencapai 80 persen jumlah masyarakat yang berdoa di Vihara, bahkan jelang siang hari belum ada mencapai 10 orang.

"Kalau sampai hari ini perubahannya jauh sekali. Kalau dulu, Imlek ramai sekali, kalau tahun ini drastis sekali penurunan. Biasanya hari pertama bisa sampai ratusan orang, kalau ini sudah jauh sekalilah. Sampai siang ini 10 orang pun belum ada. Dari dupa saja sudah nampak. Kita lihat pasti dari pandemi ini orang takut keluar. Kalau dilihat ada 80 persen turun," ungkap Arifin kepada tribun-medan.com.

Arifin menyebutkan, untuk perayaan Imlek tahun ini, Vihara menyediakan 50 hio. Namun hingga jelang siang masih digunakan sebanyak dua buah. Padahal, setiap tahunnya vihara selalu menyediakan 200 Batang hio.

Arifin menilai begitu banyak tradisi yang hilang akibat pandemi ini, diantaranya ada barongsai dan wayang kulit.

"Biasanya kita ada baarongsai. Dua tahun ini kayaknya belum ada karena lihat suasana tahun ini seperti ekonomi dan keamanan untuk mengundang keramaian membuat kita berpikir," kata Arifin.

"Selain itu kita ada wayang orang. Biasanya sebelum pandemi mulai dari jam lima sore. Ini tidak bisa lagi karena pemainnya ini rata-rata dari luar negeri seperti Bangkok, China, Vietnam, dan Thailand. Biasa tiap tahun ada wayang dan ramai. Kalau dimainkan di sini bisa dua sampai tiga minggu," tambahnya.

Selain acara hiburan, pandemi saat Imlek juga berdampak kepada pembagian zakat.

Arifin bercerita bahwa biasanya H-7, vihara selalu adakan pembagian zakat kepada seluruh umat Tionghoa.

"Kemudian ada pembagian zakat dan angpao. Tapi tahun ini jadi berkurang. Kami biasanya H-7 sebelum Imlek dibagi ada itu sekitar 300 orang. Tapi kalau sekarang paling ada sekitar 80 orang tidak sampai 100. Kita bagi sembako ini juga tiga tahap dari jam 11-12 siang, jam 1-2 siang, dan jam 2-3 sore," ucapnya.

Tentu saja perubahan drastis ini tidak diharapkan. Bertepatan dengan momen Imlek ini, Arifin juga turut berharap agar pandemi dapat segera berakhir agar pelaksanaan Imlek dapat dirayakan seperti semua.

"Kita berharaplah pandemi ini cepat selesai dan bisa rayakan Imlek dengan ramai lagi. Semoga juga ekonomi masyarakat dapat segera membalik," pungkasnya.(cr13/tribun-medan.com)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved