Breaking News:

Pentingnya Sertifikasi Usaha Pariwisata untuk Meyakinkan Pelancong

Hingga saat ini, baru 264 usaha pariwisata yang tersertifikasi di Sumatera Utara.

Tribun Medan
Owner of Aldo Holiday and Aldo Convex Jakarta Aldo Lendy Sumolang dalam Sosialisasi dan Simulasi Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan pada penyelenggaraan Kegiatan Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (MICE) di destinasi super prioritas Danau Toba di Prapat, Selasa (16/2/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Hingga saat ini, baru 264 usaha pariwisata yang tersertifikasi di Sumatera Utara. Dari usaha tersebut sebanyak 168 usaha yang tersertifikasi adalah restoran, 71 hotel, sedangkan usaha lainnya adalah daya tarik wisata, HomeStay, MICE, tempat penjualan cinderamata, usaha arung jeram, dan usaha jasa transportasi wisata. 

"Jika dibandingkan Sumatera Utara yang seluas ini, yang tersertifikasi baru 264, ini menjadi tugas berat dari Pemda untuk meminta hotel dan pelaku pariwisata lainnya mengajukan sertifikasi secepat mungkin," kata Owner of Aldo Holiday and Aldo Convex Jakarta, Aldo Lendy Sumolang. 

Hal tersebut diungkapkannya dalam Sosialisasi dan Simulasi Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan pada penyelenggaraan Kegiatan Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (MICE) di destinasi super prioritas Danau Toba di Prapat, Selasa (16/2/2021).

Baca juga: Ini Profil Perusahan Swiss Mister Loo yang Ditunjuk Luhut Urus Toilet Umum di Pariwisata Danau Toba

Ia mengatakan, Kemenparekraf sudah intens untuk meminta pelaku pariwisata secepat mungkin mengajukan sertifikasi. Namun pelaku usaha ini terkendala saat mengunggah dokumen.

"Sedangkan dalam proses sertifikasinya tidak ada kendala karena sertifikasi itu kan untuk menindaklanjuti kesiapan yang sudah terinformasikan saja," katanya. 

Sertifikasi ini, katanya, akan memberikan keyakinan secara psikologis bagi para pengunjung usaha pariwisata dalam berwisata. Dengan begitu omzet usaha pariwisata juga akan ikut meningkat.

"Saya sebagai orang awam pun bukan sebagai penggiat saja, kalau pada saat saya berkunjung ke hotel atau restoran, saya lihat ada sertifikasi seperti itu, percaya diri saya membawa keluarga atau bisnis di restoran atau hotel tersebut akan lebih tinggi dibandingkan membawa ke tempat yang tidak punya sertifikasi dalam kondisi new normal ini," katanya. 

Khusus untuk sertifikasi CHSE di MICE dikatakannya, ada perbedaan dengan penerapan CHSE di usaha lainnya seperti hotel dan restoran. Panduan penerapan CHSE di MICE lebih spesifik baik untuk kegiatan di dalam mau pun di luar ruangan. 

Secara keseluruhan, dalam penyelenggaraan kegiatan, pengunjung harus menggunakan alat pelindung diri minimal masker, sarana cuci tangan dengan sabun dan penggunaan hand sanitizer, jaga jarak aman minimal satu meter, pengecekan suhu tubuh, penggunaan teknologi (touchless), pembayaran non-tunai, penyediaan makanan dan minuman, dan media informasi sebagai sarana pengingat protokol kesehatan seperti poster, marking, dan lain sebagainya.

Selain itu, banyak panduan lainnya yang sudah diatur dalam panduan untuk penerapan adaptasi kebiasaan baru bagi pengusaha/pengelola usaha dan pihak terkait lainnya dalam penyelenggaraan MICE yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

"Kita tidak ada tenggat waktu sertifikasi ini hingga kapan tapi kita berharap pelaku pariwisata ini akan tersertifikasi semua," pungkasnya.

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved