Breaking News:

Sungai Berderah Dipenuhi Sampah, Nelayan Kesulitan Berlayar dan Sering Gatal-Gatal

Sungai Berderah, terutama yang mengalir di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, dipenuhi sampah yang membuat para nelayan kesulitan berlayar.

Tribun-Medan.com/Rechtin Hani
Nelayan yang sedang membersihkan sampah dari mesin kapal di bawah jembatan yang melintasi Sungai Berderah, Jalan Kapten Rahmad Buddin, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kamis (24/3/2021). Sungai yang kotor membuat nelayan bertahun-tahun kesulitan mencari nafkah. 

TRIBUN-MEDAN.com-Sungai Berderah, terutama yang mengalir di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, dipenuhi sampah yang membuat para nelayan kesulitan berlayar.

Sampah yang memenuhi sungai kerap menghambat perahu dan air sungai yang penuh limbah membuat kulit terasa gatal dan memerah.

Seorang nelayan, Fadlan mengeluhkan banyaknya sampah menghambat perahunya saat akan bekerja. Ia mengatakan, sampah dan limbah mulai memenuhi sungai sejak sekitar tiga tahun lalu.

"Sudah lama ini. Banyak kali sampah begini, sungainya pun kotor dan hitam pekat seperti ini. Kami jadi susah bawa kapal kalau mau bekerja karena banyak kali tumpukan sampahnya," ujarnya, Kamis (25/3/2021).

Sampah yang terlalu banyak, kata Fadlan kerap menyangkut di mesin kapalnya. Sehingga beberapa menit sekali dirinya dan nelayan yang lain harus membersihkan mesin agar bisa terus menjalankan kapal.

Fadlan mengatakan, sampah yang menggenangi sungai tersebut tidak pernah habis. Jika air pasang, katanya, sampah kerap meminggir ke tepi. Lalu, jika surut, sampah kembali memenuhi aliran.

Baca juga: Siapkan Normalisasi Sungai, Wali kota Bobby Pimpin Aksi Pembersihan Parit Sulang-saling

Menurut Fadlan, warga tak mau lagi menggunakan air Sungai Berderah di dekat rumahnya untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mengatakan, bahkan jika hanya terkena tangan atau kakinya saja, air sungai tersebut menyebabkan rasa gatal.

Fadlan mengatakan, sampah dan limbah berasal dari berbagai sumber. Baik dari pembuangan warga sekitar, TPA Terjun dan pabrik. Sebagian lainnya juga berasal dari limbah pengepul yang mencuci plastik untuk didaur ulang.

Nelayan lainnya, Safaruddin mengatakan sejak beberapa tahun lalu dirinya dan nelayan yang lain sudah tidak lagi mencari ikan di daerah Sungai Berderah ataupun Belawan. Hal ini karena pasokan ikan untuk ditangkap sudah semakin kecil.

Ia pun mengaku, jika menangkap ikan harus membawa kapal sampai ke Pulau Berhala, Serdangbedagai.

Halaman
123
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved