TRIBUNWIKI

Dibalik Kisah Nama Desa Jaring Halus di Kabupaten Langkat

Namun, di saat itu Negeri Pulau Sembilan sudah berpenghuni, akhirnya rombongan tersebut melanjutkan pelayaran.

Tayang:
Editor: Ayu Prasandi
Tribun Medan/Dedy Kurniawan
Dampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumut terus berdampak ke nelayan di Desa Jaring Halus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Selasa (24/9/2019). 

"Memang pada saat itu, Cek Abu Bakar mencari tempat yang tak berpenghuni. Karena kalau tempat atau wilayah sudah berpenghuni mereka takut ketahuan Inggris. Karena, Berembang, Nipah Panjang, juga ada penghuni, mereka pun menyelusuri pantai untuk mencari tempat," tuturnya. 

Baca juga: Sampuren Putih, Air Terjun di Tengah Hutan Sibolangit, Cocok untuk Lokasi Berkemah

Dampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumut terus berdampak ke nelayan di Desa Jaring Halus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Selasa (24/9/2019).
Dampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumut terus berdampak ke nelayan di Desa Jaring Halus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Selasa (24/9/2019). (Tribun Medan/Dedy Kurniawan)

Dalam perjalanan menyusuri pantai, dan sudah bermalam juga di Kapal Tongkang tersebut.

Akhirnya, para rombongan tersebut menemukan suatu wilayah, dengan pantai putih yang luas tanpa ada penghuni.

Kemudian, Cek Abu abakar bin Awang dengan beberapa orang dari rombongan menaiki daratan. 

"Ketika mereka menaiki daratan, mereka pun memandangi hutan bakau yang luas. Terpikirlah oleh mereka bahwa pulau tersebut dapat dihuni oleh mereka.

Namun, sebelum menempati pulau itu, Cek Abu Bakar berdialog dengan orang halus di wilayah itu. Cek Abu Bakar meminta izin untuk menjadikan wilayah itu sebagai tempat tinggal mereka," kata Datok Seri H. Zainal Arifin Aka. 

Baca juga: Gaya Gen Halilintar saat Pernikahan Aurel Disorot, Hingga Tangisan Sang Adik, Berikut Fakta-faktanya

"Dalam dialog dengan orang halus itu (orang bunian), Cek Abu Bakar pun diberi syarat oleh orang halus tersebut, agar dapat menjadikan pulau itu tempat tinggal mereka yang terdiri dari sekitar 40 kepala keluarga.

Syarat dari orang halus itu, untuk memberikan sajian seperti Jamu Laut dalam setahun sekali untuk orang Halus tersebut.

Namun, Cek Abu Bakar tidak sanggup menerima syarat seperti itu. Cek Abu Bakar hanya sanggup Jamu Kaut tersebut dilakukan tiga tahun sekali," tambahnya. 

Selanjutnya, Datok Seri H. Zainal Arifin Aka, menceritakan setelah diterima persyaratan tersebut oleh orang halus. Kemudian, Cek Abu Bakar mendirikan pondok untuk tempat tinggal. Lalu, Cek Abu Bakar pun ingin menamakan wilayah tersebut. 

Sambungnya menceritakan, karena Cek Abu Bakar bin Awang ingin menamakan wilaya tersebut.

Suatu hari, Cek Abu Bakar menemukan dedaunan tumbuh di wilayah tersebut, bagaikan telapak tangan dan lima jari manusia

Nelayan di Desa Jaring Halus
Nelayan di Desa Jaring Halus (TRIBUN MEDAN/ AQMARUL AKHYAR)

Di mana dedaunan tersebut sangat halus. 

"Dengan ditemukan dedaunan tersebut, maka di situ pula terpikir oleh Cek Abu Bakar, untuk menamakan wilayah tersebut Negeri Jaring Halus. Karena seperti jari jari halus daun itu, jadi dinamakan lah Negeri Jaring Halus hingga sampai sekarang namanya menjadi Desa Jaring Halus," tuturnya. 

Baca juga: David Maulana Dikabarkan Perkuat HNK Rijeka di Liga Kroasia

Datok Seri H. Zainal Arifin Aka, juga menceritakan bahwa dedaunan seperti telapak tangan manusia dan jari manusia hanya ada di desa tersebut.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved