TRIBUNWIKI
Dibalik Kisah Nama Desa Jaring Halus di Kabupaten Langkat
Namun, di saat itu Negeri Pulau Sembilan sudah berpenghuni, akhirnya rombongan tersebut melanjutkan pelayaran.
TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Sebuah nama tempat atau wilayah di Sumatera Utara, tentunya memiliki kisahnya tersendiri.
Satu di antaranya Desa Jaring Halus, di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat.
Sejarawan Langkat, Datok Seri H. Zainal Arifin Aka, menceritakan dahulunya Desa Jaring Halus disebut sebuah Negeri Jaring Halus.
Nama Negeri Jaring Halus tentunya memiliki sebuah kisah yang panjang. Bahkan sangat berkaitan dengan penjajahan Inggris di Negeri Kedah, Malaysia.
Baca juga: Pasien Sekarat yang Terlantar di Puskesmas Bakkara Meninggal Dunia
"Sekitar abad ke 18, terjadi peperangan yang dahsyat antara Inggris dengan masyarakat Kedah Malaysia, yang telah menjajah tanah semenanjung. Peperangan itu disebut perang larut. Jadi, dikalangan Laskar Melayu Kedah Malaysia dipimpin Panglima Sampi," ujarnya, Sabtu, (3/4/2021).
Sambungnya menceritakan, dalam mengahadapi perperangan dengan penjajahan Inggris tentulah rakyat Kedah Malaysia kocar kacir belari untuk menyelamatkan diri.
Ada yang melarikan diri ke arah wilayah Indonesia. Seperti rombongan yang dipimpin Cek Abu Bakar bin Awang, yang berasal dari Kamoung Sungai Layar, tepatnya Sungai Patani Kedah Malaysia.
Lanjutnya menjelaskan dengan penuh keberanian, Ecek Abu Bakar bin Awang menyelamatkan kekuarga dan rombongan dengan berlayar menggunakan kapal tongkang kayu tanpa bermesin.
Kapal tongkang yang digerakan oleh manusia dengan dayung.
Baca juga: Sampuren Putih, Air Terjun di Tengah Hutan Sibolangit, Cocok untuk Lokasi Berkemah
"Cek Abu Bakar dalam pelayarannya tak ounya arah mau ke mana hendak dituju.
Tetapi, yang terpenting mereka ingin menyelamatkan diri dari jajahan Inggris," tuturnya.
Kemudian, beberapa hari kemudian berlayar, rombongan tersebut sampai ke suatu pulau.
Yakni, pulau yang tak dikenal dengan nama Negeri Pulau Sembilan, Kecamatan Pangkalan Susu.
Namun, di saat itu Negeri Pulau Sembilan sudah berpenghuni, akhirnya rombongan tersebut melanjutkan pelayaran.
Menelusuri pantai, hingga sampai ke Berembang Tanjung Pura.
"Memang pada saat itu, Cek Abu Bakar mencari tempat yang tak berpenghuni. Karena kalau tempat atau wilayah sudah berpenghuni mereka takut ketahuan Inggris. Karena, Berembang, Nipah Panjang, juga ada penghuni, mereka pun menyelusuri pantai untuk mencari tempat," tuturnya.
Baca juga: Sampuren Putih, Air Terjun di Tengah Hutan Sibolangit, Cocok untuk Lokasi Berkemah
Dalam perjalanan menyusuri pantai, dan sudah bermalam juga di Kapal Tongkang tersebut.
Akhirnya, para rombongan tersebut menemukan suatu wilayah, dengan pantai putih yang luas tanpa ada penghuni.
Kemudian, Cek Abu abakar bin Awang dengan beberapa orang dari rombongan menaiki daratan.
"Ketika mereka menaiki daratan, mereka pun memandangi hutan bakau yang luas. Terpikirlah oleh mereka bahwa pulau tersebut dapat dihuni oleh mereka.
Namun, sebelum menempati pulau itu, Cek Abu Bakar berdialog dengan orang halus di wilayah itu. Cek Abu Bakar meminta izin untuk menjadikan wilayah itu sebagai tempat tinggal mereka," kata Datok Seri H. Zainal Arifin Aka.
Baca juga: Gaya Gen Halilintar saat Pernikahan Aurel Disorot, Hingga Tangisan Sang Adik, Berikut Fakta-faktanya
"Dalam dialog dengan orang halus itu (orang bunian), Cek Abu Bakar pun diberi syarat oleh orang halus tersebut, agar dapat menjadikan pulau itu tempat tinggal mereka yang terdiri dari sekitar 40 kepala keluarga.
Syarat dari orang halus itu, untuk memberikan sajian seperti Jamu Laut dalam setahun sekali untuk orang Halus tersebut.
Namun, Cek Abu Bakar tidak sanggup menerima syarat seperti itu. Cek Abu Bakar hanya sanggup Jamu Kaut tersebut dilakukan tiga tahun sekali," tambahnya.
Selanjutnya, Datok Seri H. Zainal Arifin Aka, menceritakan setelah diterima persyaratan tersebut oleh orang halus. Kemudian, Cek Abu Bakar mendirikan pondok untuk tempat tinggal. Lalu, Cek Abu Bakar pun ingin menamakan wilayah tersebut.
Sambungnya menceritakan, karena Cek Abu Bakar bin Awang ingin menamakan wilaya tersebut.
Suatu hari, Cek Abu Bakar menemukan dedaunan tumbuh di wilayah tersebut, bagaikan telapak tangan dan lima jari manusia
Di mana dedaunan tersebut sangat halus.
"Dengan ditemukan dedaunan tersebut, maka di situ pula terpikir oleh Cek Abu Bakar, untuk menamakan wilayah tersebut Negeri Jaring Halus. Karena seperti jari jari halus daun itu, jadi dinamakan lah Negeri Jaring Halus hingga sampai sekarang namanya menjadi Desa Jaring Halus," tuturnya.
Baca juga: David Maulana Dikabarkan Perkuat HNK Rijeka di Liga Kroasia
Datok Seri H. Zainal Arifin Aka, juga menceritakan bahwa dedaunan seperti telapak tangan manusia dan jari manusia hanya ada di desa tersebut.
Kemudian, Datok Seri H. Zainal, menjelaskan, mereka meminta izin melalui Datok Sitanggang kepada Sultan Langkat, Sultan Musa, untuk membuka kampung Jaring Halus.
"Mereka bermohon kepada Sultan Musa, untuk membuka kampung Jaring Halus. Karena terusir dari kampung sendiri dan tidak ada tempat untuk tinggal.
Dari permohonan tersebut, mereka pun diizinkan dan membuat tradisi Jamu Laut setiap tiga tahun sekali. Dengan adanya tradisi tersebut, Sultan Langkat pun simpati dan memberikan hadiah Keris kepada Cek Abu Bakar," tuturnya.
(cr22/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kebakaran_hutan_lahan.jpg)