TRIBUNWIKI
Masjid Raya Al-Osmani, Saksi Sejarah Pusat Peradaban Islam Di Kota Medan
Masjid Al Osmani yang awalnya berbahan kayu-kayu pilihan saat ini sudah semakin megah dan dihiasi cahaya gemerlap.
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Berpadukan lima unsur arsitektur Timur Tengah, India, Eropa, Tiongkok dan Melayu, Masjid Al Osmani masih berdiri megah sebagai bukti kejayaan Islam.
Masjid bersejarah ini sudah berdiri sejak 1854 atau 167 pada tahun 2021.
Masjid Al Osmani yang awalnya berbahan kayu-kayu pilihan saat ini sudah semakin megah dan dihiasi cahaya gemerlap.
Lokasinya di Jalan KL Yos Sudarso, Kelurahan Pekanlabuhan, Kecamatan Medanlabuhan, Kota Medan, Sumatera Utara.
Masjid Al-Osmani menjadi saksi sejarah pusat peradaban Islam.
Baca juga: Rumah yang Digasak Maling hingga Tersisa Puing-puing Tak Ditempati Selama 20 Tahun
Dan sekaligus saksi peninggalan bersejarah pemerintahan Raja Deli Ketujuh, Sultan Osmani Perkasa Alam, sebelum berpindah pusat pemerintahan dipindah ke Istana Maimon, Medan.
"Arsitektur masjid ini sangat kaya dan beragam. Masjid awalnya masih berbahan kayu, dibangun Raja Deli ketujuh, Sultan Osman Perkasa Alam. Awalnya hanya rumah panggung dari kayu.
Kemudian dibangun oleh anaknya langsung, dengan memadukan arsitektur ala Timur Tengah, India, Eropa, Tiongkok, dan Melayu," kata Ketua Pengurus Masjid Ustaz Haji Ahmad Fahruni kepada Tribun Medan, Kamis (8/4/2021) saat gelaran acara silaturahmi menyambut bulan suci Ramadan.
Khas Tiongkok bisa dilihat dari motif pada pintu-pintu masjid, khas Eropa ada pada bagian ornamen dan tiang-tiang penyanggah, khas India ada pada bagian dalam masjid dan kubah.
Lalu, khas Timur Tengah ada pada bagian ornamen dalam masjid, sedangkan khas melayu dari sisi warna kuning dan hijau yang menyelimuti indah warna dinding-dinding masjid.
Baca juga: Kue Putu, Makanan Tradisional Indonesia yang Dikukus dengan Bambu serta Mengeluarkan Bunyi yang Khas
"Kuning keemasan ini khasnya, melambangkan kemuliaan dan keagungan. Hijau warna adalah simbol Islam dan kedamaian," katanya.
Warna hijau dalam literasi Islam memang beberapa kali disebutkan di Al-Qur'an-firman Allah yang Maha Esa.
Di antaranya, dalam surah Al-Insan ayat 21, tertulis 'Mereka (penghuni) di dalam surga memakai pakaian Hijau yang terbuat dari sutera halus dan sutera tebal (yang berketat), serta mereka dihiasi dengan gelang-gelang tangan dari perak dan mereka diberi minum oleh Tuhan mereka dengan sejenis minuman (yang lain) yang bersih suci'.
Dikisahkan Ustaz Ahmad Fahruni, awalnya, masjid ini menjadi tempat ibadah umat Islam, dan sarana berkumpul antara raja dan rakyatnya. Di masjid lah ini jadi muasal persebaran ilmu pengetahuan, ilmu Islam, dan peradaban di kawasan rumpun Melayu, Labuhan Deli.
Seiring perkembangan zaman dan penduduk, bangunan masjid dibangun dan diluaskan oleh Raja Deli Kedelapan, Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam, pada medio 1870-hingga 1872.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/masjid-al-osmani-di-jalan-kl-yos-sudarso.jpg)