Breaking News:

Surat untuk Bobby Nasution, Wali Kota Medan

Anda memenangkan pemilihan, tetapi lapisan demi lapisan yang kemudian secara cepat terbentuk di sekitar Anda, telah membuat Anda berjarak dari rakyat.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Tribun Medan/Risky Cahyadi
POLISI mengamankan aksi unjuk rasa yang berlangsung di Balai Kota Medan, kemarin. Unjuk rasa digelar terkait pengamanan dan birokrasi protokoler Wali Kota Medan yang dinilai berlebihan. 

Pak Wali,

Ada satu cerita yang pernah saya dengar –dan kemudian saya baca– waktu masih SD dulu. Siapa tahu Anda pernah mendengar atau membacanya juga. Cerita ini tentang Nasruddin Affandi, seorang mullah; cerdik pandai dan pemuka agama [orang terpandang], yang setelah datang susah payah ke istana menemui Sultan Timurlenk justru minta diberi hukuman.

Disebut dalam cerita bahwa sesungguhnya Sultan adalah pemimpin bijaksana yang peduli dan cinta pada rakyat. Ia ingin rakyatnya hidup makmur, sejahtera, dan berbahagia. Ia tidak ingin mendengar ada rakyatnya yang menangis karena kelaparan atau menahan sakit lantaran tak mampu pergi berobat.

Namun sayang seribu kali sayang, niat mulia Sultan terkerangkeng oleh lingkungannya sendiri. Orang-orang di sekitarnya. Lapisan-lapisan birokrasinya. Mulai dari orang-orang yang benar-benar penting, setengah penting, tidak terlalu penting, sampai kepada orang-orang yang sama sekali tak penting tapi justru sok merasa paling penting.

Orang-orang ini sebegitu rupa merancang dan menciptakan sekat-sekat yang membuat Sultan benar-benar menjadi seorang sultan. Sosok eksklusif, tinggi, mulia, dan tak tersentuh.

Satu ambiguitas yang mengenaskan. Di satu sisi Sultan ingin dekat dengan rakyat, di sisi yang lain, pada saat bersamaan, malah makin terjauhkan.

Paling mengenaskan, Sultan tidak sadar betapa antara dirinya dan rakyat memang sudah ada bentangan jarak. Rakyat yang awalnya cinta berubah jadi tak suka. Rakyat yang sejak mula memang tidak suka atas satu dua sebab perkara bertambah dalam membencinya.

Nasruddin Affandi (sering juga disebut Nasruddin Hoja atau Nasreddin Hoca) melihat Sultan masih bisa diselamatkan. Maka dia pun datang ke istana, dan seperti sudah ia duga, upayanya menemui Sultan memang tidak mudah. Dia harus melewati lapisan demi lapisan birokrasi yang membentangkan jaraknya dengan Sultan. Mulai dari orang-orang yang sama sekali tidak penting tapi sok merasa paling penting, orang-orang yang tidak terlalu penting, orang-orang setengah penting sampai kepada orang-orang yang benar-benar penting.

Nasruddin geleng-geleng kepala. Bahkan dirinya yang seorang mullah saja mesti bersusah payah begini rupa untuk bisa menemui Sultan. Bagaimana rakyat, orang-orang biasa yang tidak punya embel-embel apa-apa?

Pak Wali,

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved