Surat untuk Bobby Nasution, Wali Kota Medan
Anda memenangkan pemilihan, tetapi lapisan demi lapisan yang kemudian secara cepat terbentuk di sekitar Anda, telah membuat Anda berjarak dari rakyat.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Anda berhasil memenangkan pemilihan, tetapi sayang seribu kali sayang, lapisan demi lapisan yang kemudian secara cepat terbentuk di sekitar Anda, mulai dari lapisan orang yang benar-benar penting, orang setengah penting, orang-orang yang tak terlalu penting sampai kepada orang-orang yang sama sekali tidak penting tapi sok merasa paling penting, yang makin ke sini makin menunjukkan sikap pongah dan arogan pula, telah membuat Anda berjarak dari rakyat.
Jarak ini, dari hari ke hari, terus bertambah lebar. Rakyat yang awalnya cinta berubah jadi tak suka. Yang sejak awal memang tidak suka lantaran satu dua sebab perkara, aih, makin terang-terangan menunjukkan kebenciannya.
Namun bukankah Anda sering berada di tengah-tengah rakyat? Bagaimana bisa berjarak? Pertanyaan seperti ini pasti mengemuka. Iya, betul. Anda memang sering pergi menemui rakyat. Ini tidak dapat dimungkiri.
Nyaris saban hari Anda blusukan, turba, atau apalah istilahnya. Anda meninjau korban-korban bencana. Anda datang ke permukiman-permukiman tepi sungai, rumah susun, atau ke kelompok-kelompok warga kurang beruntung. Sama saja, sebab kesan yang tertangkap dari itu semua tidaklah lebih dari sekadar pameran sikap kemerakyatan yang terpaksa.
Tidak ada interaksi yang nyata dan hidup. Sebaliknya, serba teratur. Kaku dan tidak lepas. Pendek kata, kelihatan sekali dibikin-bikin, persis adegan dalam sinetron kurang modal di televisi yang kerap jadi bahan olok-olok.
Lebih-lebih gedung kantor tempat Anda bekerja. Sekarang makin terasa eksklusif. Kantor Anda, balai kota, semestinya adalah rumah rakyat. Tempat rakyat mengadukan segenap keluh kesah dan masalah. Anda pasti masih ingat, seorang Cina di Jakarta pernah melakukannya. Para jelata datang dari mana-mana.
Menggelontorkan curahan hati atas nasib mereka tanpa ragu dan malu. Ada yang menangis. Tidak sedikit yang histeris. Tentu, para penipu juga ada, dan dia dengan mudah mendeteksi mereka karena kedekatannya dengan rakyat memang sebenar-benarnya nyata dan hidup, tanpa sekat, tanpa jarak.
Kantor Anda? Ah, inilah. Lapisan-lapisan birokrasi --dan protokoler-- di sekitar Anda telah mengubahnya menjadi istana, tempat bertahta seorang raja --yang tinggi, mulia, dan tak tersentuh. Rakyat jauh di bawah sini, Anda di atas sana. Dan ini yang paling celaka [memang sungguh-sungguh celaka], lantaran ternyata, bawahan-bawahan Anda juga mulai menunjukkan gelagat untuk menerapkan kecenderungan serupa.
Pak Wali, apakah Anda tidak menyadarinya?
(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/bobby-2.jpg)