Belajar Musik di Amerika, Suarasama Hadirkan Harmoni dengan Petikan Saz-Gitar

Suarasama merupakan satu grup musik dari Medan yang lahir sejak tahun 1995 dan terus menghasilkan karya hingga saat ini

Tayang:
TRIBUN MEDAN/ANGEL AGINTA SEMBIRING
Rithaony Hutajulu (tengah), Irwansyah Harahap (kanan) di program Ngobstik Tribun Medan, Jumat (16/4/2021).(TRIBUN MEDAN/ANGEL AGINTA SEMBIRING) 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN-Suarasama merupakan musisi aliran world music berasal dari Medan sejak 1995.

Memadukan suara petikan saz-gitar dan tabuhan Indian sruti box, Suarasama memberikan kesan manis pada harmoni setiap lagunya.

Memasuki industri musik sejak 90an, Suarasama mengalami perbedaan dari masa ke masa dalam mengembangkan karyanya mulai dari Nasional hingga Internasional.

Bahkan Suarasama memulai langkah pertama kali dari Prancis saat ia manggung di Jogjakarta.

Baca juga: Mencari Solusi Konstruktif Industri Musik, Musisi Indonesia Berdiskusi dengan Menko Airlangga

"Kami tidak menyangka kalau ini menjadi dunia kami, saat pulang dari Amerika dan belajar musik. Kami membentuk grup tapi hanya latihan sampai 2 tahun dan pertama kali manggung di Jogja, ada direktur Prancis mendengarkan dan meminta 60 menit untuk dijadikan album, itulah kami startnya malah dari luar,' kata vokalis Suarasama Rithaony Hutajulu, di program Ngobstik Tribun Medan, Jumat (16/4/2021).

Setelah membuat album pada 1998, 2002, 2006, dan 2013, kini Suarasama menghadirkan album Journey pada 2020 yang memiliki 7 lagu di dalamnya yang akan dirilis satu per satu kepada pendengar hingga akhir 2021.

Satu diantara lagu yang dirilis beberapa hari lalu yaitu Syair Cinta.

Lagu ini dapat didengar di seluruh digital platform music dan youtube.

Rithaony juga membocorkan akan merilis lagu pada Jumat mendatang. 

Baca juga: VIA VALLEN Ungkap Kenapa Pilih Jadi Pedangdut, Meski Dia Penikmat Musik Jazz, Pop dan R&B dari Kecil

Suarasama menjelaskan perbedaan membentuk album pada 1998 dan sekarang yaitu, saat 90an membuat album dalam bentuk CD dan berawal diperdengarkan ke Radio France International di Prancis untuk diputarkan hingga 600 kota di seluruh dunia. 

Rithaony mengingat satu lagu terakhir dari 20 CD Music of Indonesia yaitu lagunga yang bertajuk Fajar Di Atas Awan diterbitkan di Amerika.

Bahkan lagu Fajar Di Atas Awan menjadi pembicaraan, direview dan dituliskan hingga 10 tahun kemudian sebab mereka ingin menyebarkan lagu tersebut ke Amerika, Kanada, Jepang dan Eropa.

Baca juga: Mantu Presiden Jokowi Masuk Lokasi Hiburan Malam Dengarkan Dentuman Musik, Lakukan Ini ke Pengelola

"Bermusik ini untuk diri sendiri, jadi melalui musik itu mampu menjadi healing yang bisa menyenangkan dan dinikmati untuk kita sampaikan energinya kepada pendengar," ujarnya.

Irwansyah Harahap sebagai komposer Suarasama mengatakan bahwa bermusik adalah pemberian (gift)  yang diberikan kepada musisi untuk mendengarkan sesuatu yang indah.

Baca juga: Kulcapi, Alat Musik Tradisional Suku Karo Menyerupai Gitar, Hanya Miliki Dua Senar

"Musisi itu jangan pernah merasa kecewa dan ragu, itu adalah pemberian kepada dirinya. Bukan semata-mata pekerjaan atau hobi jadi bahagialah menjadi musisi," kata Irwansyah.

Satu hal terpenting dalam bermusik disampaikan Suarasama yaitu setiap musisi mempuyai signature yang menjadi ciri khas yang melekat dalam hidupnya. (cr9/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved