Breaking News:

Ngopi Sore

Ada Gedung Putih di Medan, Presidennya?

Aturan baru cara peliputan di Balai Kota Medan seperti di Gedung Putih, kantor Presiden Amerika Serikat. Padahal yang berkantor di sana bukan presiden

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
tribun medan/riski cahyadi
SEJUMLAH jurnalis melakukan aksi tabur bunga dalam unjuk rasa yang digelar di depan Balai Kota Medan, Jalan Maulana Lubis, Rabu (21/4). 

Orang-orang Medan, entah yang lahir di Medan atau telah lama keluyuran di kota ini, pasti tahu bahwa ada satu gedung yang pernah populer dengan sebutan Gedung Putih. Iya, tentu ini sebangsa “penyebutan kreatif” belaka. Gedung Putih, kita paham, adalah kantor sekaligus tempat tinggal Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat. White House nama resminya. Terletak di 1600 Pennsylvania Avenue NW, Washington D.C.

Di Medan, Gedung Putih ini berada di kawasan Jalan Sekip. Kenapa disebut Gedung Putih? Pertama lantaran cat bangunannya memang putih. Kedua di sini tinggal (dan berkantor) seorang presiden juga. Presiden “dunia bawah”, Olo Panggabean.

Setelah Olo meninggal dunia, kementerengan nama Gedung Putih di Sekip surut jauh. Gedung Putih menjadi sekadar memorabilia dalam kenangan. Masih ada fisiknya. Namun namanya tinggal menyisakan senyum tanpa rasa getar.

Sekian tahun berlalu, kini naga-naganya akan muncul Gedung Putih yang lain. Kebetulan memang cat gedungnya sama-sama putih. Di mana letaknya?

Hm... Pergilah ke kawasan Jalan Maulana Lubis, tiada jauh dari tepian Sungai Deli, di seberang bangunan hotel bintang lima, maka kalian akan menemukan gedung itu. Berdiri mentereng, elite, jauh lebih mentereng dan elite ketimbang Gedung Putih Olo Panggabean.

Bukankah deskripsi ini mengarah ke gedung Balai Kota Medan? Anda tidak keliru. Memang itulah yang dimaksud. Namun kenapa Gedung Putih?

Nama Gedung Putih begitu saja menyelinap ke benak saya pagi tadi. Saat memeriksa pesan-pesan yang masuk ke grup-grup WhatsApp. Pada setidaknya empat di antaranya, saya menemukan tautan video yang sama. Tautan yang berasal dari Instagram mengatasnamakan Humas Pemerintah Kota Medan.

Saya buka tautan pada grup WhatsApp itu. Ternyata tidak bisa. Tiap di-klik, video menampilkan tampilan “koloni semut”. Artinya, video tersebut sudah dicabut dari tempatnya semula. Saya beralih ke grup WhatsApp kedua, lalu ketiga, tetap tidak bisa. Beruntung di grup keempat, tautan itu, yang sebenarnya tetap tidak bisa dibuka, bisa ditonton karena barangkali [sebelum dihapus] sudah lebih dulu di-copy.

Video ini singkat saja. Tidak sampai dua menit. Namun mencengangkan lantaran memuat aturan-aturan yang aneh bin ajaib perihal tata cara peliputan di balai kota. Kenapa aneh? Kenapa ajaib?

Walau tidak pernah sekali pun terdaftar dalam jajaran wartawan unit Pemerintah Kota Medan, setidaknya saya sudah wara-wiri meliput dan memotret aktivitas di sana selama 13 tahun. Dari penghujung periode terakhir Wali Kota Bachtiar Djafar (2000) hingga periode awal Wali Kota Rahudman Harahap sebelum beliau terjerat KPK dan kemudian digantikan wakilnya, Dzulmi Eldin (2013). Dan sepanjang masa itu, saya tidak mendapati aturan seperti yang dikemukakan dalam video singkat tadi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved