Breaking News:

TRIBUNWIKI

Masjid Raya Siantar, Lahan Hibah Raja Siantar Terakhir Usai Menjadi Mualaf

Lahan dari masjid ini merupakan hibah dari Raja Siantar terakhir, yakni Raja Sangnaualuh, pada tahun 1910.

Penulis: Alija Magribi
Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ALIJA
Masjid Raya Siantar 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR- Masjid Raya Pematangsiantar merupakan masjid kebanggaan muslim Kota Pematangsiantar.

Sekitar 43,90 persen dari total populasi kota ini adalah umat Islam dari sensus penduduk tahun 2010.

Baca juga: Seorang Wartawan di Deliserdang Dianiaya saat Meliput Penolakan Pemakaman Jenazah Covid-19

Muslim dan non-Muslim hidup berdampingan selama ratusan tahun.

Hampir setiap panggilan azan, jemaah penuh sesak untuk mendatangi panggilan Allah.

Wajar saja, Masjid Raya Pematangsiantar ini berdiri strategis di pusat Kota Pematangsiantar.

Gedung berlantai dua ini dibangun dengan corak arsitektur kombinasi antara beberapa masjid terkenal, seperti Masjid Nabawi di Madinah, Masjid Azizi di Langkat dan beberapa masjid lainnya di Pulau Jawa.

Perlu diketahui, Masjid Raya Pematangsiantar didirikan pada tahun 1911 yang dipelopori oleh Penghulu Hamzah, Tuan Syeh H. Abdul Jabbar Nasution, dr M. Hamzah Harahap dan Dja Aminuddin.

Lahan dari masjid ini merupakan hibah dari Raja Siantar terakhir, yakni Raja Sangnaualuh, pada tahun 1910.

Tuan Rudi Damanik, keturunan kelima dari paman Sangnaualuh Damanik, bernama Tuan Itam Damanik menceritakan, Sangnaualuh Damanik dilantik menjadi seorang raja pada usia 17 tahun.

Baca juga: Viral Jaran Kepang Berakhir Damai, Tokoh Agama Datangi Polrestabes Medan Minta Penangguhan Tersangka

Saat itu Sangnaualuh dinobatkan sebagai raja Siantar ke-14 (tahun 1888).

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved