Berlomba Dengan Waktu, KRI Rigel Bukan Kapal Biasa, Kehebatannya Diharapkan Temukan KRI Nanggala

KRI Rigel-933 juga dilengkapi peralatan Sub Bottom Profile SES 2000 yang mampu mencitrakan badan sedimen dasar laut.

Dok Koarmada I
KRI Rigel-933 di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Senin (18/1/2021). Pernah diterjunkan saat pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 

TRIBUN-MEDAN.com - Hilangnya kontak Kapal Selam KRI Nanggala-402 membuat TNI AL menerjunkan armada mereka untuk mencari keberadaan lokasi tenggelamnya satu diantara KRI TNI AL itu.

Satu kapal yang didatangkan membantu adalah KRI Rigel-933 pada Jumat (23/4/2021), menjadi harapan besar bagi tim pencari agar kapal selam KRI Nanggala-402 segera ditemukan.

Hal ini pun disampaikan oleh Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Achmad Riad.

"Perkembangan proses pencarian saat ini kita harapkan salah satu KRI yang mampu memonitor bawah laut."

"KRI Rigel sudah berada dekat hari ini merapat," ujar Kapuspen TNI, Mayjen TNI Achmad Riad, dalam konferensi pers di Base Ops Lanud Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Jumat, dilansir Tribun Bali ( grup Tribun-Medan.com).

Baca juga: Merasa tak Dihargai Dua Anak Sule, Kondisi Bayi di Perut Nathalie Disorot, Begini Isi Pesan Dokter

Baca juga: Daftar Zodiak yang Diramal Beruntung 24 April 2021, Percaya Usaha Anda tak Akan Mengkhianati Hasil

Baca juga: INGIN Kuliah Gratis dan Langsung Jadi PNS/ASN, Cek di Sini Syarat dan Cara Pendaftarannya

Baca juga: Inilah Kecanggihan P-8 Poseidon, Pesawat Anti Kapal Selam Amerika, Diturunkan Cari KRI Nanggala-402

TNI Angkatan Laut (TNI-AL) akan mengoptimalkan KRI Rigel dalam pencarian black box Cockpit Voice Recorder (CVR), bagian body pesawat serta korban pesawat Lion Air PK-LQP di perairan Karawang, Jawa Barat.
TNI Angkatan Laut (TNI-AL) akan mengoptimalkan KRI Rigel dalam pencarian black box Cockpit Voice Recorder (CVR), bagian body pesawat serta korban pesawat Lion Air PK-LQP di perairan Karawang, Jawa Barat. (Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda)

KRI Rigel-933 pun merupakan kapal canggih yang dibuat galangan kapal OCE Les Sables d’Olonne, Perancis.

Dikutip dari majalah Cakrawala Edisi 426 Tahun 215 milik TNI AL, nama Rigel pun diambil dari istilah astronomi sebagai bintang kedua yang paling bercahaya di rasi bintang, yakni Orion (Waluku).

Orion berwarna biru keputihan itu dan memiliki kekuatan cahaya sekitar 117 ribu kali luminositas matahari dengan diameter 74 kali matahari.

Dalam bahasa Arab, kata Rigel sering disebut “Rigl awza al-Yusra” yang berarti kaki kiri.

Kapal yang datang Indonesia pada pertengahan Mei 2015 ini berjenis Multi Purpose Research Vessel (MPRV).

Memiliki kemampuan dalam melaksanakan survei hidrografi, oseanografi, geofisika, dan perikanan, KRI Rigel-933 berbeda dengan kapal perang pada umumnya.

Kapal ini pun berdimensi panjang 60,10 meter dan lebar 11,5 meter, serta mampu mengangkut total 46 orang.

Untuk kepentingan riset hidrografi, KRI Rigel-933 dilengkapi peralatan super lengkap, mulai Single Beam Echosounder KONGSBERG EA600 hingga Multibeam Shallow Water Dual head KONGSBERG EM2040 yang mampu melaksanakan pemetaan perairan dangkal dari 0 hingga 450 meter.

Lalu, untuk kepentingan survei laut dalam, terdapat Multibeam Deep Water KONGSBERG EM302 yang menggunakan gelombang suara pada frekuensi 30 KHz.

Alat ini juga mampu melaksanakan pemetaan bawah laut hingga kedalaman 7.000 meter.

KRI Rigel-933 juga dilengkapi dengan alat pencitra dasar laut Side Scan Sonar KONGSBERG 2094.

Sementara, untuk kemampuan di bidang survei oseanografi, KRI Rigel-933 dilengkapi CTD Profil RESON yang dipadu Nansen Bottle (Rosset 12x8 liter sampel air).

Baca juga: Teriak Minta Tolong Noval (15), Remaja Ditarik Buaya saat Mandi Sungai, Ayahnya tak Bisa Berenang

Baca juga: Dilihat Sekilas, Anak 90an Pasti Bilang Ini Rumah di Film Si Doel, Tapi Kini Dirubuhkan karena Ini

Baca juga: Usai Peluk dari Belakang, Aksi Mesra BCL Makin Berani Elus Pipi Ariel NOAH, Ayah Alleia Bikin Heboh

Baca juga: Sudah 12 Hari Puasa Ramadhan, Jangan Sampai Batal, Sebab Ganjarannya Dilipatgandakan Seribu Kali

KRI Rigel-933 tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (15/5/2015). Alutsista baru TNI AL buatan Perancis yang diklaim berteknologi paling canggih se-Asia dalam survei dan pemetaan bawah laut tersebut tiba di Jakarta setelah berlayar selama 50 hari dari Perancis.
KRI Rigel-933 tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (15/5/2015). Alutsista baru TNI AL buatan Perancis yang diklaim berteknologi paling canggih se-Asia dalam survei dan pemetaan bawah laut tersebut tiba di Jakarta setelah berlayar selama 50 hari dari Perancis. (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Alat ini juga berfungsi sebagai pengukur karakteristik air laut, seperti suhu, salinitas tekanan, kedalaman, dan densitas air laut.

Alat ini juga mempunyai sensor dalam mengukur parameter fisik air laut dan dapat digunakan hingga kedalaman 6.000 meter.

Kemudian, dalam riset geofisik untuk kepentingan riset dasar laut, KRI Rigel-933 juga dilengkapi peralatan Sub Bottom Profile SES 2000 yang mampu mencitrakan badan sedimen dasar laut.

Kapal ini dilengkapi peralatan untuk pengambilan contoh sedimen berupa gravity Corer OSIL (3 M) dan Grab Sampler Petite Ponar Grab untuk sedimen permukaan.

KRI Rigel-933 juga dilengkapi pendeteksi kemagnetan Magnetometer SEASPY guna memetakan sifat kemagnetan bumi serta mampu menginvestigasi anomali kemagnetan suatu area survei dalam skala detail.

Peralatan canggih lainnya dalam kapal ini dilengkapi peralatan Autonomous Underwater Vehicle (AUV) dari KONGSBERG HUGIN 1000, yang berfungsi melaksanakan pencitraan bawah laut sampai kedalaman 1.000 meter.

Alat ini menjadi andalan dalam memindai bentang alam laut mengandalkan sonar sisinya.

AUV yang merupakan alat buatan Kongsberg, Norwegia ini bisa beroperasi secara mandiri (otonom) berbasis data komputer yang telah diinput dan data keluaran hasil kerjanya bisa dipancarkan seketika waktu.

AUV mampu membedakan lapisan demi lapisan air laut di kedalaman, hingga mengenali perbedaan salinitas dan pergerakan arus air.

Juga bisa membedakan apakah obyek yang dijumpai itu metal, bahan organik, dan sebagainya.

Selain itu, KRI Rigel-933 juga dilengkapi Remotely Operated Vehicle (ROV) dari OCEAN MODUL V8 buatan ECA Robotics, Perancis.

Peralatan survei robot bawah air ini dapat berfungsi sebagai survei geofisika, pipa bawah laut.

ROV dilengkapi sebuah lengan dengan lima fungsi gerakan, layaknya tangan manusia, sehingga dapat mengambil obyek di dasar laut.

Robot bawah air ini dilengkapi dua buah kamera bawah air dan satu buah kamera tiga dimensi.

Baca juga: Jawaban Buya Yahya, Kenapa Datangnya Malam Lailatul Qadar Selalu Disembunyikan Allah SWT

Baca juga: KAPAL Selam KRI Nanggala-402 Kemungkinan Terbawa Arus ke Perairan yang Lebih Dalam Arah Timur

Baca juga: Sudah 12 Hari Puasa Ramadhan, Jangan Sampai Batal, Sebab Ganjarannya Dilipatgandakan Seribu Kali

Anggota TNI AL mengamati KRI Rigel-933 yang tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (15/5/2015). Alutsista baru TNI AL buatan Perancis yang diklaim berteknologi paling canggih se-Asia dalam survei dan pemetaan bawah laut tersebut tiba di Jakarta setelah berlayar selama 50 hari dari Perancis.
Anggota TNI AL mengamati KRI Rigel-933 yang tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (15/5/2015). Alutsista baru TNI AL buatan Perancis yang diklaim berteknologi paling canggih se-Asia dalam survei dan pemetaan bawah laut tersebut tiba di Jakarta setelah berlayar selama 50 hari dari Perancis. (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

ROV mampu mengambil contoh material dasar laut sebagai bahan penelitian, dengan kemampuan sampai dengan kedalaman 1.000 meter.

Dilansir KompasTV, KRI Rigel-933 sebelumnya sukses menemukan titik lokasi jatuhnya pesawat dan dua sinyal black box Sriwijaya SJ-182.

Berlomba dengan Waktu

Tim pencarian kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang kontak sejak Rabu (21/4/2021) dini hari, berlomba dengan waktu.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Yudo Margono, berharap KRI Nanggala-402 bisa ditemukan sebelum Sabtu (24/4/2021) dini hari.

Pasalnya, kapasitas oksigen yang ada dalam kapal selam buatan Jerman ini hanya bisa bertahan selama tiga hari.

"Blackout itu mampu 72 jam, sekitar 3 hari. Jadi bisa sampai Sabtu jam 03.00 WIB."

"Sehingga cadangan oksigen masih ada," terang Yudo dalam konferensi pers, Kamis (22/4/2021), dilansir Tribunnews.

"Mudah-mudahan ini dapat segera ditemukan sehingga kondisi oksigen masih ada," imbuhnya.

Foto yang diambil pada tanggal 5 Oktober 2017 ini menunjukkan kapal selam Cakra Indonesia KRI Nanggala berlayar dari pelabuhan di Cilegon, Banten.
Foto yang diambil pada tanggal 5 Oktober 2017 ini menunjukkan kapal selam Cakra Indonesia KRI Nanggala berlayar dari pelabuhan di Cilegon, Banten. (AFP)

Berdasarkan hal tersebut, oksigen KRI Nanggala-402 diperkirakan hanya tersisa delapan jam hingga Sabtu pukul 03.00 WIB, terhitung sejak Jumat pukul 18.36 WIB.

Hingga pada hari Jumat (23/4/2021), TNI telah mengerahkan 21 KRI untuk mempercepat proses pencarian KRI Nanggala-402.

"KRI yang dikerahkan dalam proses pencarian sekarang sebanyak 21, 21 itu termasuk KRI Aluguro 405 yang juga kapal selam," kata Kapuspen TNI, Mayjen TNI Achmad Riad, dalam konferensi pers, Jumat, dilansir Tribun Bali.

Dari pihak kepolisian juga menerjukan sebanyak empat kapal, yakni Kapal Jelantik, Kapal Enggang, Kapal Barantang, dan Kapal Balang.

Diketahui, KRI Nanggala-402 menghilang tepat 46 menit setelah izin menyelam diberikan.

Kapal selam ini pun hilang kontak saat melakukan latihan menembak rudal D802 dan torpedo.(Tribunnews.com/Pravitri Retno W/Maliana/Gita Irawan, Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin)

(*/ Tribun-Medan.com)

Artikel ini sudah tayang di TRIBUNNEWS

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved