Napi yang Kendalikan Penjualan Sabu Ratusan Juta dari Lapas Divonis 5 Tahun Penjara

Majelis hakim yang diketuai Hendra Utama Sutardodo menilai, lelaki 40 tahun itu melanggar pasal  112 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009.

TRIBUN MEDAN/GITA
Sidang vonis terdakwa Apriadi Saputra Bin Tugiran Alias Putra secara daring di ruang cakra 8 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (27/4/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com - Kendalikan penjualan sabu hingga ratusan juta dari lapas Tanjung Gusta, Apriadi Saputra Bin Tugiran Alias Putra, kini divonis 5 tahun penjara, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (27/4/2021).

Majelis hakim yang diketuai Hendra Utama Sutardodo menilai, lelaki 40 tahun itu melanggar pasal  112 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009  tentang Narkotika.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Apriadi Saputra Bin Tugiran Alias Putra, dengan pidana penjara selama 5 tahun, denda Rp 1 milyar, subsidar 2 bulan penjara," vonis Hakim.

Usai membacakan vonis, terdakwa Apriadi menyatakan pikir-pikir.

Vonis tersebut, lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Maria Tarigan, yang meminta supaya terdakwa dihukum 7 tahun penjara, denda Rp 1 milyar, subsidar 2 bulan penjara.

Sementara itu, dalam dakwaan Jaksa  menuturkan perkara itu, bermula pada Senin 10 Agustus 2020 sekitar pukul 15.00 WIB di Jalan Marelan Pasar V Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan.

Saat itu, Taufik Hidayat (berkas terpisah) ditangkap oleh Petugas  BNN, sebab di dalam dasbort sepeda motor Taufik  ditemukan  sabu dengan berat 99,8.

"Saat diintrogasi Taufik Hidayat mengatakan bahwa sabu tersebut, diperoleh dari Ismail Is alias Mais atas suruhan Nanang Zulkarnain Alis Tembong. 

Dimana sebelumnya teman terdakwa, yang bernama Nanang yang sama-sama berada di Lapas Tanjung Gusta Medan, menanyakan apakah ada orang yang bisa menyediakan narkotika jenis sabu sebanyak 1 Kg," urai JPU.

Kemudian  terdakwa Apriadi pun menghubungi  Azhari Bin M. Ali Hasan, dan menanyakan, siapakah yang bisa menyediakan sabu sebanyak 1 Kg, kemudian Azhari menjawab bahwa dia akan menanyakan kepada temannya.

Selanjutnya pada 4 Agustus 2020,Azhari pun menghubungi terdakwa dan mengatakan bahwa sabunya ada, selanjutnya terdakwa menghubungi Nanang Zulkarnain, dan menyampaikan bahwa ada orang yang bisa menyediakan sabunya.

Kemudian, terdakwa sepakat dengan Nanang bahwa harga sabu sebanyak 1 Kg tersebut Rp 370 juta. Kemudian terdakwa dan Nanang sepakat  mendapatkan upah sebanyak Rp 20 juta.

Selanjutnya terdakwa meminta nomor anggotanya Nanang yang bisa menerima sabunya, setelah nomornya diberikan, terdakwa mengirimkan lagi kepada Azhari, dan selanjutnya Azhari  mengirimkan nomor anggotanya Nanang kepada orang yang akan menyerahkan sabu tersebut.

"Selanjutnya yang berkomunikasi langsung tentang penyerahan sabu tersebut, antara anggotanya Azhari dengan anggotanya Nanang. Kemudian terdakwa mendapatkan kabar bahwa sabu yang di pesan oleh Nanang, tersebut sudah diterima oleh anggotanya Nanang," kata JPU.

Setelah itu, kata JPU Nanang pun menyerahkan upah Rp 20 juta melalui uang tunai.  Kemudian pada hari Senin  10 Agustus 2020 sekitar pukul 20.00 WIB terdakwa dipanggil petugas Lapas Tanjung Gusta Medan.

Pada saat itu terdakwa mengetahui kalau anggotanya Nanang, ditangkap pihak BNN, kemudian karena terdakwa merasa pernah menjualkan sabu kepada Nanang, maka HP yang terdakwa pergunakan untuk komunikasi dengan Nanang tentang penjualan sabu tersebut langsung dihancurkan dengan tujuan supaya alat komunikasi hilang.

"Setelah itu pada hari Kamis tanggal 13 Agustus 2020 sekitar pukul 14.00 WIB terdakwa dijemput oleh pihak BNN dari Lapas," kata JPU.

Akibat perbuatannya, terdakwa diancam Pidana pasal 114 (2) Jo. Pasal 132 (1) UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved