1.000 UMKM Siap Ekspor Tahun Depan, Disperindag Sumut Bentuk Export Centre
Ini kita akan menaik kelaskan UKM dengan ekspor oriented agar kita ada 1.000 ekspor terbaru dalam jangka dua tahun di tahun 2022.
Ketua Asosiasi UMKM Sumut, Ujiana Sianturi mengungkapkan bahwa hadirnya program ini akan membantu pemulihan ekonomi secara nasional.
"Hadirnya Klinik Ekspor ini akan membuat UMKM bisa belajar, dibina dan didampingi. Kalau ekspor ini kan kita harus punya legalitas sendiri. Karena saat ini kalau hanya jualan lokal saja kurang terasa, kalau sudah berbicara ekspor kan nilai jual bisa tinggi dan keuntungan juga bisa lebih nampak untuk para pelaku UMKM," ungkap Ujiana, Senin (17/5/2021).
Namun begitu, Ujiana berpendapat bahwa Disperindag Sumut harus dapat berkomitmen untuk mempersiapkan pendamping yang benar berkompeten untuk membantu para pelaku UMKM menyiapkan administrasi hingga persiapan untuk siap ekspor.
Ujiana mengatakan hal tersebut lantaran hingga saat ini masih banyak pelaku UMKM yang belum memenuhi syarat-syarat untuk menjadi eksportir.
Dikatakan Ujiana, hingga saat ini dari 2,2 juta pelaku UMKM di Sumut, masih sekitar 5 persen pelaku UMKM yang sudah mengurus izin badan usaha yang masih satu diantara syarat menjadi eksportir.
"Yang perlu dipersiapkan UMKM adalah Badan Usahanya. Ini kan harus punya akte usaha yang disahkan ke Administrasi Hukum Umum (AHU) oleh Kemenkumham. Supaya lengkap dan terintegrasi karena berbicara ekspor, pelaku usaha ini harus mengkoneksikan oss.go.id ke Lembaga Nasional Single Window untuk pengurusan dokumen ekspor. Ketika sudah terkoneksi, berarti dokumen sudah terintegrasi," jelasnya.
Dikatakan Ujiana, saat ini pelaku UMKM di bawah Asosiasi UMKM Sumut sedang mempersiapkan produk-produk yang ternyata diminati oleh Jepang seperti komoditas holtikultura dan aneka snack keripik.
"Baru-baru ini importir Jepang minta ke Asosiasi UMKM Sumut untuk keripik singkong, daging durian, petai, jengkol, cabai rawit, cabai merah, dan serai. Ini partai besar yang diminta saat ini. Cabai dari Sumut jauh lebih pedas dibanding dari Jawa, jadi mereka langsung oke. Saya sudah diminta untuk mengirimkan sample ke Jepang," kata Ujiana.
Melihat hal tersebut, tentu hasil olahan dari UMKM di Sumut dapat diperhitungkan sebagai sumber pendapatan daerah. Untuk itu, Ujiana berharap Klinik Ekspor ini dapat memfasilitasi para pelaku UMKM dengan instruktur yang berkompeten.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/buah-durian-tribun-medancom_20160201_132537.jpg)