Breaking News:

Korban Bentrok Warga Natumingka-PT TPL: Kami Tidak Merampas Tanah Negara

"Latar belakang penanaman eukaliptus di Natumingka saya tahu persis. Saya saksi hidup," ujar Simanjuntak.

TRIBUN MEDAN/MAURITS PARDOSI
Jusman Simanjuntak, warga Desa Natumingka yang terluka akibat bentrok masyarakat dengan karyawan Toba Pulp Lestari, Selasa (19/5/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE - Seorang warga Desa Natumingka, Jusman Simanjuntak (75), yang terluka pada peristiwa bentrok masyarakat dengan karyawan PT Toba Pulo Lestari (PT TPL), Selasa (18/5/2021), menyatakan bahwa mereka bukan perampas tanah negara.

"Kami tidak merampas tanah negara. Kami menuntut tanah warisan nenek moyang kami. Latar belakang penanaman eukaliptus di Natumingka saya tahu persis. Saya saksi hidup," ujarnya, Rabu (19/5/2021). 

Ia menceritakan rentetan sejarah atas lahan yang menjadi sengketa tersebut. Menurutnya, pada tahun 1953, lahan tersebut dijadikan sebagai areal penghijauan (reboisasi). 

Walaupun diberikan sebagai lahan reboisasi, menurutnya warga tidak serta memberikan tanah tersebut kepada negara. Pasalnya, di kawasan lain pun program reboisasi tersebut lumrah terjadi. 

"Tahun 1953, di areal Natumingka dilakukan penanaman pinus dengan bahasa reboisasi. Yang kami tahu, reboisasi itu untuk menguatkan tanah bukan ada acara bahwa kami sudah siap memberikan ini menjadi tanah negara, bukan," ujarnya.

Baca juga: Warga Desa Natumingka dan Karyawan PT Toba Pulp Lestari Bentrok, 5 Orang Terluka

Baca juga: Bentrok Berdarah di Kabupaten Toba, 5 Warga Terluka, Ini Keterangan PT TPL

"Dan bukan hanya di Natumingka diadakan reboisasi, di daerah Tornagodang pun ada, daerah Lumban Ruhap ada. Tapi, kenyataan? Sayang seribu sayang, pemerintah kami tidak tanggap terkait penanaman pinus tersebut. Karena tidak ada komentar dari pemerintah Desa kami," sambungnya. 

Selain di desa mereka, ada dua desa lain yang berdekatan dengan mereka menjadikan lahan untuk reboisasi, tapi pinus tersebut dipanen oleh masyarakat, bukan kehutanan pun pemerintah. Dan, lahan tersebut tidak dikuasai oleh TPL, seperti yang mereka alami. 

"Tapi kalau yang di Tornagodang dan Lumban Ruhap, masyarakat yang memanen pinus. Bukan pemerintah. Bukan Kehutanan. Dan sampai sekarang, tanah orang itu aman," ungkapnya. 

Lalu, ia bercerita lugas seputar penyebab luka yang ada di bagian wajahnya. Ia mengisahkan kronologisnya.Awal bentrok terjadi setelah pihak PT TPL hadir di lokasi sengketa dan berencana menanam pohon eukaliptus. 

Karena masyarakat tahu akan rencana pihak TPL tersebut, maka masyarakat juga berada di lapangan dan melarang pihak TPL. Alhasil, penanaman pohon eukaliptus sempat terhenti. 

Halaman
123
Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved