Breaking News:

Kades Terdakwa Kasus Korupsi tak Pernah Masuk Kantor Setahun, Pembangunan Jembatan tak Berjalan

Jaksa menghadirkan empat orang saksi dalam perkara korupsi Kepala Desa Salabulan, Lebih Tarigan dengan Bendaharanya, Fransiskus valentino.

TRIBUN MEDAN / GITA
SIDANG KORUPSI - Suasana persidangan dugaan korupsi dana desa di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (24/5). Terdakwa Kepala Desa Salabulan, Lebih Tarigan merugikan uang negara mencapai Rp 258 juta. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Fakta persidangan korupsi dana pembangunan jembatan yang menghubungkan Dusun II dengan III Desa Salabulan, Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deliserdang memancing amarah majelis hakim.

Jaksa Penuntut Umum menghadirkan empat orang saksi dalam perkara korupsi Kepala Desa Salabulan, Lebih Tarigan dengan Bendaharanya, Fransiskus valentino di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (24/5).

Rukiyati sebagai saksi mengungkapkan terdakwa Lebih Tarigan tidak pernah menempati kantor selama satu tahun. Ia yang bekerja sebagai pendamping warga sudah mendesak agar segera merealisasikan pembangunan jembatan sepanjang 12 meter dengan lebar tiga meter.

Namun, kantor Kepala Desa Salabulan selalu tampak tertutup dan tidak terawat sepanjang tahun 2019. Pembangunan jembatan ini sudah diusulkan sejak tahun 2017, karena tertimpa runtuhan material longsor.

Baca juga: Warga Lakukan Swab Massal Pasca Dua Dusun Desa Sumberejo Deliserdang Lockdown

Baca juga: Pembunuhan Sadis Guru SD Marta Butarbutar dengan Luka 24 Liang, Ini Kesaksian Kepala Dusun

"Jadi warga yang berharap adanya pembangunan jembatan kecewa karena belum siap. Tak sampai di situ ketika didatangi ke kantor desa mempertanyakan penyelesaian jembatan kantor, desanya malah tutup setahun pada 2019," ungkap Rukiyati.

Rukiyati pun semakin mempertegas bahwa warga sempat berulang kali mendatangi kantor desa. Tetapi, selalu melihat kondisi kantor yang kosong. "Iya karena kami datang ke kantor ada dua kali dalam seminggu, selalu kantornya tutup," tegas saksi.

Rukiyati juga sudah sempat membeli rangka besi senilai Rp 80 juta sesuai permintaan terdakwa. Namun, rangka besi itu tidak kunjung digunakan.

Saksi lainnya, Maradona yang juga pendamping desa, dalam persidangan mengaku curiga karena tidak diberikan informasi perkembangan proyek pembangunan jembatan. Ia hanya terlibat selama perencanaan.
Maradona pun sempat menanyakan langsung kepada terdakwa tentang mandeknya pembangunan jembatan. Akan tetapi, terdakwa secara enteng menghiraukan pertanyaan saksi.

Sementara, saksi lainnya, Aladin Sembiring yang merupakan Kaur Pembangunan Desa Salabulan tahun 2017 dan Antonius Sembiring Kaur Pembangunan Desa 2019 menyebutkan rancangan dan pelaksanaan ada, tetapi pekerjaan tidak rampung.

Antonius mengaku diminta untuk menandatangi alat berat ekscavator senilai Rp 60 Juta, supaya pengerjaan selesai. Tetapi alat berat yang dimaksud tidak pernah ada. Mendengar keterangan para saksi tersebut, Ketua Majelis Hakim mempertanyakan kenapa tidak dilakukan perhitungan secara matang terkait pembangunan jembatan tersebut. "Ini uang negara jangan dibuat-buat main," cetus hakim ketua.

Halaman
12
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Tommy Simatupang
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved