Gurihnya Cimpa Matah, Kue Khas Karo Yang Tidak Dimasak

Dalam bahasa Indonesia Matah artinya mentah, alasan diberinya nama tersebut, karena proses pembuatan Cimpa Matah memang tidak dimasak

Editor: Ayu Prasandi
IST
Cimpa Matah yang siap disantap 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Masyarakat suku Karo memiliki berbagai macam kuliner yang terkenal dengan kelezatan dan keunikannya.

Tidak hanya kuliner yang dimasak dengan bumbu-bumbu yang khas, masyarakat suku Karo sejak dahulu telah memiliki makanan ringan tradisional seperti kue yang hanya dibuat di momen-momen tertentu saja.

Seperti Cimpa Matah, kuliner khas suku Karo satu ini, memiliki tektur seperti kue dengan rasa yang gurih, lembut dan manis. 

Cimpa Matah yang siap disantap
Cimpa Matah yang siap disantap (IST)

Dalam bahasa Indonesia Matah artinya mentah, alasan diberinya nama tersebut, karena proses pembuatan Cimpa Matah memang tidak dimasak, sepenuhnya menggunakan tenaga manusia.

Cimpa matah terdiri dari dua warna, coklat dan putih. Keduanya memiliki rasa yang berbeda, Cimpa Matah yang berwarna kecoklatan didominasi rasa manis, sedangkan warna putih didominasi rasa asin dan gurih.

Baca juga: Direktur RSUD dr Pirngadi: Karena Keluarga Pasien Emosional ya Jadi Begitu!

Seorang warga Karo, Anisa Br Tarigan mengatakan bahwa Cimpa Matah biasanya wajib dibuat di momen-momen tertentu, seperti pesta masuk rumah baru (mengket rumah), perayaan 7 bulan ibu hamil, pernikahan, dan acara adat lainnya.

"Cara membuat makanan ini memang enggak menggunakan api alias enggak dimasak. Tapi Cimpa Matah ini bukan makanan sembarangan, ini dibuat hanya di acara tertentu saja. Paling sering di acara mengket rumah baru," katanya kepada tribunmedan.com, Sabtu (29/5/2021).

Dikatakannya biasanya para ibu-ibu akan bergotong royong membuat Cimpa Matah dalam porsi besar. Tidak jarang pula anak-anak remaja ikut terlibat dalam pembuatannya. 

Anisa menjelaskan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Cimpa Matah juga tidak banyak, cukup sediakan beras, kelapa, lada hitam, gula merah dan garam sesuai porsi Cimpa Matah yang ingin dibuat.

"Alat membuatnya sediakan lesung atau penumbuk beras dan saringan. Pertama haluskan beras di lesung, memang ini yang melelahkan, apalagi porsi yang mau dibuat banyak, bisa berjam-jam jadi capek di menumbuk berasnya," katanya.

Selanjutnya, kata Anisa setelah beras sudah menjadi tepung, giliran gula merah dan kelapa parut yang ditumbuk dalam lesung hingga menyatu.

Baca juga: Resep Capcay untuk Vegetarian, Tanpa Kaldu Daging

"Setelah semuanya sudah halus, masukkan beras yang sudah ditumbuk halus ke dalam lesung ditambah 3 sendok gula merah yang sudah dicampur dengan kelapa, lada hitam dan garam lalu diaduk sampai merata semua.

Lalu masukkan lagi sisa tepung berasnya dan tambahkan juga gula merah yang sudah di campur dengan kelapa, aduk lagi sampai rata," jelas Anisa.

Kemudian, katanya jika tepung belum menggumpal dapat menambahkan gula merah yang sudah dicampur kelapa secukupnya, hingga adonan menyatu sempurna, dan apabila sulit menggumpal bisa menambahkan tepung beras secukupnya.

"Terus ditumbuk sampai betul-betul menyatu semua bahannya. Bahkan terkadang sampai terasa panas Cimpa Matahnya.

Kalau sudah benar-benar menyatu tinggal disajikan saja, langsung bisa dimakan," ucapnya.

Dikatakan Anisa, biasanya masyarakat Karo menyimpan Cimpa Matah dalam sumpit Karo, yakni keranjang berukuran kecil yang terbuat dari anyaman pandan lalu dibagikan ke anggota keluarga.

"Kita enggak buat bentuknya kayak kue-kue biasa, cuma dikepal-kepal pakai tangan saja. Lalu dibagikan ke keluarga dalam sumpit," ucapnya.

Baca juga: Resmi Mempersunting Citra Monica Hari Ini, Ifan Seventeen Ungkap Alasan Pilih Tanggal Pernikahan

Cara membuat cimpa matah berwarna putih juga sama, hanya yang warna putih tidak ditambahkan gula merah, sehingga rasa yang dominan adalah asin dan pedas dari lada hitam.

Meski demikian kata Anisa porsi Cimpa Matah harus diperhatikan dengan baik karena makanan satu ini hanya tahan 24 jam.

"Porsinya dibuat sesuatu kebutuhan lah ya, karena ini kan pakai bahan-bahan alami gak ada pengawet. Jadi biasanya besok udah basi," pungkasnya.

Perlu diketahui bahwa di hari-hari tertentu, penjual Cimpa Matah dapat dijumpai di pajak Berastagi. Namun makanan ini memang biasanya cukup sulit ditemukan.

(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved