Kedai Tok Awang

Sepak Bola Nggak Pernah Libur

Begitulah semarak sepak bola di Eropa memang sudah berakhir. Namun kesemarakan ini akan dengan segera digantikan kesemarakan yang lain. Piala Eropa!

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/FABIO FRUSTACI
TROPI - Tropi Piala Eropa (Euro) dipamerkan di Kota Roma, Italia, beberapa waktu lalu. Euro tahun 2020 yang telah ditunda selama satu tahun akibat pandemi Covid-19 akan dimulai pada 11 Juni 2021. 

"Siapa tahu can duit. Pak Jek kapan mulai buka lapak? Piala Dunia kemarin, kan, nanggok banyak bapak, sampai bisa bangun pagar rumah," katanya menambahkan.

Percakapan kemudian bergeser ke Piala Eropa 2020 yang rencananya digelar mulai 11 Juni 2021. Tertunda setahun lantaran pandemi. Sebanyak 24 negara yang lolos kualifikasi akan berlaga di stadion-stadion di sebelas negara berbeda. Iya, untuk kali pertama, kejuaraan ini diselenggarakan dengan format multiple hosting: Azerbaijan, Italia, Denmark, Rusia, Belanda, Rumania, Inggris, Skotlandia, Spanyol, Jerman, dan Hongaria. Masing-masing negara diwakili satu kota.

Grup A dimainkan di Roma dan Baku, Grup B di Saint Petersburg dan Coppenhagen, Grup C di Amsterdam dan Bucharest, dan Grup D di London dan Glasgow. Dua grup lainnya, Grup E dan F, dimainkan di Sevilla dan Saint Petersburg, serta Munich dan Budapest.

"Itu Saint Petersburg jadi tuan rumah di Grup B dan E, ya?" tanya Jontra Polta.

Sudung mengangguk. "Sempat aku searching waktu itu, Bang Jon. Tadinya yang ditunjuk UEFA itu Irlandia Utara. Persisnya mau dimainkan di Kota Dublin. Tapi kayaknya enggak siap orang itu. Paling siap, ya, Rusia. Mereka, kan, tuan rumah Piala Dunia yang lalu."

"Tapi teringatnya, apa, lah, alasan UEFA bikin kejuaraan tuan rumahnya sampai sebelas kayak gini. Apa nggak payah itu koordinasinya?" tanya Jek Buntal pula, lalu menyedot es teh manis dengan sedotan yang kelewat lebar. Tentang ini, Ocik Nensi sudah mengonformasi, bahwa ia memang salah membeli sedotan. Ia membeli sedotan untuk minuman boba.

"Balik-baliknya ke Covid juga, Ketua. UEFA mempertimbangkan perekonomian banyak negara yang ambruk. Jadi berat kalau tuan rumahnya cuma satu atau dua. Sekalian sebelas," ujar Sudung.

Selain terkait koordinasi, Jontra Polta juga menyoroti perihal potensi peluang. Menurutnya, dengan dipentaskan di banyak negara, maka apa yang disebut sebagai 'keuntungan tuan rumah' tidak ada lagi. Semua kontestan jadi memiliki peluang yang –paling tidak boleh dikata– hampir sama besar.

"Cobalah, misalnya, sekarang Perancis atau Jerman yang jadi tuan rumah. Aku berani pegang mereka berbanding taruhan berapa pun. Persentase mereka bisa juara kukira sampai 90 persen," sebutnya.

Analisis Jontra Polta disanggah Jek Buntal. Bilangnya, tanpa jadi tuan rumah pun Perancis dan Jerman sekarang patut jadi unggulan-unggulan utama.

"Mamak tengok itu Perancis. Dari bawah tiang gawang sampai depan stedi semua. Enggak ada yang calus. Enggak ada lubuknya. Apalagi, Si Benzema pun sudah balik. Dulu di Piala Dunia striker mereka cumak Giroud, bisa orang itu juara. Sekarang mestinya lebih ganas."

"Eh, jangan kelen lupakan Inggris dan Italia,” kata Sangkot menimpali. “Ngeri juga itu skuatnya. Terutama Inggris. Muda-muda dan cepat. Jangan lupa, Inggris menguasai semifinal Liga Champions dan Liga Eropa."

"Kalau aku masih lihat Portugal, sang juara bertahan. Masih ada Ronaldo di sana, bersama bintang-bintang baru yang bersinar terang. Termasuk Bruno Fernandes. Sama satu lagi, Spanyol, dong." ucap Mak Idam.

Kalimat ini segera disambut gumam serentak dari Jontra Polta, Jek Buntal, Sudung, dan Sangkot. Jek Buntal menggeleng. "Kalau Spanyol kayaknya enggak. Jauh," katanya.

"Kenapa jauh? Apa karena enggak ada satu pun pemain Real Madrid?" tanya Mak Idam.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved