Breaking News:

Berkas Santri Tewas Di Darul Arafah Dipulangkan, Rekonstruksi Dibatalkan, Berikut Alasannya

Andri mengatakan keterangan polisi kepadanya perbedaan antara BAP dengan hasil otopsi ialah soal jumlah pemukulan yang dilakukan tersangka. 

Penulis: Goklas Wisely | Editor: Ayu Prasandi
SERAMBINEWS.COM
SERAMBINEWS.COM TRAUMA - Ibu FWA, Cut Fitriani menunjukan foto almarhum anaknya yang tersimpan di ponselnya, Senin (7/6). FWA meninggal setelah dipukul seniornya di Pondok Pesantren Darul Arafah Deliserdang. 

TRIBUN-MEDAN.com, Medan - Kuasa hukum keluarga anak yang tewas akibat dianiaya senior di Pesantren Darul Arafah menyatakan berkas kasus tersebut dipulangkan kembali ke kepolisian. 

Diketahui, kasus penganiayaan di Darul Arafah terkuak pada 3 Juni 2021. 

"Informasi yang kita dapat dari penyidik, kasus ini P19, artinya berkas dikembalikan dari kejaksaan," kata Bayu kepada Tribun Medan saat diwawancara di Polrestabes Medan, Kamis (17/6/2021). 

"Menyikapi itu kami minta SP2 HP atau hasil penyelidikan. Dijelaskan tadi secara terang benderang bahwa jaksa P19," lanjutnya. 

Baca juga: Pemprov Sumut Masih Belum Izinkan Sekolah Tatap Muka, Ijeck: Masih Lihat Perkembangan

Sementara itu, keluarga korban Andri Irawan mengungkapkan sempat berkomunikasi dengan penyidik dan mempertanyakan alasan rekonstruksi dibatalkan.

"Pihak polisi menjelaskan dibatalkan karena kejaksaan merasa hasil BAP tidak sama dengan otopsi. Jadi mereka minta berkas dikembalikan dan harus dilengkapi," ujarnya. 

Ia pun menceritakan kembali bertanya apakah rekonstruksi kasus Darul Arafah tersebut dianggap selesai atau dilanjutkan. 

"Pihak polisi bilang dianggap sudah selesai. Ya kami mempertanyakan, ini proses kronologis seperti apa. Kami keluarga kan mau tahu," tuturnya. 

Andri mengatakan keterangan polisi kepadanya perbedaan antara BAP dengan hasil otopsi ialah soal jumlah pemukulan yang dilakukan tersangka. 

Baca juga: Profil Inggrid Sembiring, Atlet Taekwondo Kebanggan Karo

Dari BAP dijelaskan satu kali pemukulan. Sementara dari hasil otopsi itu kemungkinan tidak hanya sekali pemukulan. 

"Harapkan kami hukum ini ditegakkan seadil - adilnya," tutupnya. 

(cr8/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved