Kedai Tok Awang
Setelah Lebih Setengah Abad Menanti
Terlepas dari kontraversi yang menyertainya, ini final paling ideal di Euro 2020. Selain nama besar, pertarungannya adalah juga di filosofinya.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Setidaknya, di dua laga terakhir mereka, filosofi-filosofi ini muncul. Samar tatkala Italia berhadapan dengan Belgia, tapi makin terang kala menghadapi Tiki Taka –yang sebenarnya tanggung– dari Spanyol. Pula demikian Inggris. Menghadapi Ukraina dan Denmark yang masuk lapangan dengan semangat "nothing to lose", terapan bola-bola pendek merapat yang dipraktikkan sejak babak kualifikasi secara nyata telah terinterupsi oleh bola panjang lewat akselerasi serangan dari sektor sayap yang ditempati Bukayo Saka (atau Jadon Sancho), dan Raheem Sterling.
"Sebenarnya pas lawan Jerman pun sebenarnya Inggris udah tunjukkan kalok serangan sayap orang itu bahaya kali. Ini peringatan untuk Italia. Mancini harus hati-hati betul setelah kehilangan Spinazzola. Agak-agak terasa calus pertahanan kiri mereka. Emerson enggak sekuat Spinazzola. Sering lolos. Untunglah Oyarzabal ternyata jugak sama calusnya. Kalok enggak bisa rusak parah Italia dibante Spanyol," kata Jek Buntal.
"Mancini enggak punya pilihan lain, Pak Jek," sahut Lek Tuman. Pertandingan caturnya dengan Tamsil Kalimaya kelar dengan hasil remis. Tok Awang dan Leman Dogol yang menjadi pembisik sebenarnya melihat keduanya masing-masing masih punya peluang menang, tapi baik Lek Tuman maupun Tamsil memilih untuk mengambil keputusan aman.
"Emerson memang tidak sebagus Spinazzola, tapi pelapisnya, Si Toloi, enggak bagus-bagus amat jugak. Masih di bawah Emerson, lah," kata Lek Tuman menambahkan.
"Jadi, menurut Pak Kep, kira-kira siapa yang akan menang ini? Kalok aku nggak salah tangkap, agak-agaknya Pak Kep soor ke Inggris ini, ya? Betul gitu?" tanya Sudung.
Lek Tuman menggeleng. Bilangnya, pertandingan final akan selalu diwarnai drama. Segala teori bisa pupus, termasuk statistik pertandingan. Sejauh ini, Italia dan Inggris sudah terlibat dalam 27 laga. Italia menang 11 kali. Inggris menang delapan kali. Sisanya imbang. Namun perlu digarisbawahi bahwa kemenangan Inggris kebanyakan diperoleh di laga-laga tak resmi. Sebaliknya di pertandingan resmi dalam kalender FIFA dan UEFA, mereka lebih sering kalah. The Three Lions –julukan Tim Nasional Inggris– terakhir kali menang di laga resmi pada babak kualifikasi Piala Dunia 1978. Kala itu, di Wembley, 16 November 1977, mereka menggulung Italia 2-0.
"Sama jugak, lah, dengan pertandingan di kejuaraan sebelah. Brasil lawan Argentina. Udah 111 kali orang itu main. Brasil lebih banyak menang, ada 46 kali kalok saya tak silap. Argentina menang 40 kali. Beda tipis. Kalok nengok statistik ini, ya, pasti kita jagokan Brasil, kan? Apalagi Brasil pulak tuan rumahnya. Tapi enggak bisa selurus ini. Ada banyak faktor lain. Lionel Messi, misalnya. Ini mungkin kesempatan terakhir untuk dia. Messi harus dapat gelar, paling enggak supaya imbang, lah, dengan Ronaldo. Piala Dunia belum dapat, Copa America pun jadi, lah," katanya.
Paparan Lek Tuman terputus setelah Ocik Nensi, dari balik steling, melontar pertanyaan.
"Pak Kep, kira-kira kapan corona-corona ini hilang? Udah capek kali, lah, awak pakek masker. Iya, selain itu capek belinya jugak. Karena kalok awak hitung-hitung ini, ya, dari mulai ada corona sampek sekarang, uang untuk beli masker udah cukup untuk beli steling tiga lagi."(t agus khaidir)
Pernah Dimuat di Harian Tribun Medan
Minggu, 11 Juli 2021
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/final-italia-vs-inggris.jpg)