Breaking News:

Pemandian Air Panas dan Gua-gua di Desa Penen, Cocok Jadi Lokasi Wisata Bersama Keluarga

Tak hanya itu, selain pemandian air panas, tak jauh dari lokasi tersebut juga terdapat sejumlah gua yang memiliki tekstur bebatuan yang unik.

Penulis: Mustaqim Indra Jaya | Editor: Ayu Prasandi
HO
Pemandian air panas yang terdapat di salah satu gua yang ada di Desa Penen, Kabupaten Deliserdang. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di Desa Penen, Kecamatan Sibirubiru, Kabupaten Deliserdang terdapat lokasi wisata pemandian air panas dan juga gua.

Adapun jarak dari Kota Medan hingga menuju ke lokasi, sekitar 33 kilometer atau memakan waktu tempuh kurang lebih sekitar 45 menit, bila menggunakan kendaraan pribadi.

Untuk kolam pemandian air panas yang ada di Desa Penen, airnya bersumber dari beberapa mata air. 

Baca juga: RSU Kabanjahe Patok Harga PCR Lebih Murah, Simak Penjelasannya

Air panas di pemandian tersebut berasal dari mata air yang benar-benar alami, dan suhunya bisa mencapai 60 derajat Celsius dengan kandungan belerang yang tinggi air.

Bahkan dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit dan juga bisa membuat badan fit kembali.

Tak hanya itu, selain pemandian air panas, tak jauh dari lokasi tersebut juga terdapat sejumlah gua yang memiliki tekstur bebatuan yang unik.

Sesuai dengan penamaannya, setiap gua di lokasi tersebut memiliki ciri khas tersendiri. Seperti Gua Gendang, Gua Si Ayaken, Gua Kelalawar, Gua Pontianak, dan Gua Rampah.

Di antaranya Gua Gendang, memiliki jajaran bebatuan yang ketika dipukul mengeluarkan bunyi seperti alat musik gendang. Di gua ini juga terdapat kolam air panas yang mengandung belerang.

Lalu Gua Siayaken, yang di dalamnya terdapat sebuah sumber air panas yang mengait ke lantai dan meresap ke tanah.

Konon kolam yang ada di gua ini dahulunya merupakan tempat pemandian putri raja.

Baca juga: Sejarah Jalan HM Joni Medan, Berawal dari Kisah Seorang Pemuda yang Berasal dari Tapanuli Selatan

Begitu juga dengan Gua Kelelawar. Penamaan gua tersebut lantaran banyaknya dijumpai kelelawar dibanding gua lainnya. 

Ditandai dengan banyaknya kotoran kelelawar pada bagian lantai. Dan bagi masyarakat, kotoran tersebut biasa dimanfaatkan untuk pupuk.

Terakhir agar bisa menikmati lokasi wisata tersebut, masyarakat akan dikenakan retribusi yang masih terjangkau.

(ind/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved