TRIBUNWIKI

Mengenal Desa Kolam dan Tugu Ampera PKI, Ternyata Miliki Sejarah Kelam Ini

Dikarenakan letaknya cukup jauh dari Kota Medan, bisa dibilang berada di pedalaman Tembung, Deliserdang.

Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/KARTIKA SARI
Sejumlah dusun di Desa Kolam, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang dihias sedemikian rupa agar bisa meraih juara lomba dusun terindah, Selasa (17/8/2021). Lomba hias dusun ini sudah berlangsung selama empat tahun terakhir.(TRIBUN MEDAN/KARTIKA SARI) 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN- Kampung Kolam atau yang sekarang lebih dikenal dengan Desa Kolam. Desa yang terletak di Kecamatan Percutseituan, Kabupaten Deliserdang, memiliki sejarah panjang.

Bahkan tempat yang satu ini dahulunya memiliki sejarah kelam yang tak luput dari ingatan masyarakat.

Baca juga: Pengakuan Ivan Gunawan Gula Darahnya Capai 400, Ternyata Ini Efek Mengerikan Bisa Terjadi pada Tubuh

Ya tempat yang satu ini pernah diduduki oleh PKI yang mana peristiwa besar terjadi yakni pembantaian para pahlawan Republik Indonesia pascakemerdekaan.

Dari sejumlah informasi yang berhasil dihimpun, PKI menjadikan Desa Kolam ini sebagai basis diperkirakan tahun 1965.

Tugu Ampera PKI
Tugu Ampera PKI (HO)

Kalau dari Kota Medan, menuju Desa Kolam memerlukan waktu kurang lebih satu jam.

Dikarenakan letaknya cukup jauh dari Kota Medan, bisa dibilang berada di pedalaman Tembung, Deliserdang.

Ada dua arah menuju ke Desa kolam, pertama menggunakan Jalan Bandar Setia Tembung atau Pasar X Tembung. 

Dahulunya, PKI pun sering kali mengadakan kaderisasi di Kampung Kolam dengan naungan organisasi Fajar Harapan. 

Diawal kedatangan PKI yang menempatkan Desa Kolam ini, pada awalnya tidak lah menjadi masalah.

Namun saat pemerintah menetapkan PKI sebagai organisasi terlarang sejak 30 September 1965 dimulailah percikan api tragedi Kampung Kolam.

Baca juga: PSMS Medan Segera Melakoni Tiga Laga Uji Coba sebelum Kick Off Liga 2 Bergulir, Ini Jadwal dan Lawan

Kondisi Desa Kolam dahulunya merupakan perkebunan ladang, dan hutan. Jumlah penduduknya masih sedikit. Rumah yang satu dengan yang lain, jaraknya berjauhan. 

Desa Kolam juga banyak perkebunan tembakau. Alat bantu penerangannya hanya obor atau lampu semprong.

Untuk mengempang pergerakan PKI, Pemuda Pancasila turut mengatu strategi.

Saat itu, Ketua Pemuda Pancasila, MY Effendy Nasution yang kerap disapa Fendi Keling, Senin pagi 25 Oktober 1965 sekitar pukul 10.00 WIB pun menyusun strategi penumpasan dan pengepungan PKI di tiga sektor yakni daerah Pekan Tembung, Batangkuis, dan Pasar 10 Tembung guna melaksanakan perintah. 

Untuk mengetahui mana kawan dan lawan, angka 4 dan 2 menjadi kode tersendiri dalam aksi tersebut. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved