Usai Berprestasi di Turki, Penari Sihoda Luput dari Perhatian Pemerintah di Wisma Atlet
Ia khawatir dianggap tak mensyukuri pemberian, kendati merasakan penghargaan memang minim ia dan anak-anak rasakan.
Penulis: Alija Magribi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, SIMALUNGUN- Setelah mengharumkan nama Indonesia di ajang 34th Tufag International Folkdance Competition yang diselenggarakan di Yalova, Turki, kini nasib para penari Sanggar Simalungun Home Dancer (Sihoda) jauh dari perhatian.
Padahal sepulangnya dari Turki (5/9/2021) mereka masih menjalani karantina mandiri di Wisma Atlet Pademangan selama 8 hari.
Hingga kini tak ada perhatian dari pemerintah daerah tentang nasib anak bangsa ini.
Ketua Tim Sihoda, Laura Tyas Avionita Sinaga awalnya mengaku tak mau mengeluh di media sosial.
Ia khawatir dianggap tak mensyukuri pemberian, kendati merasakan penghargaan memang minim ia dan anak-anak rasakan.
"Tanggal 6 sampai Jakarta baru karantina di Wisma Atlet Pademangan. Kami 1 kamar ada yang 4 orang ada yang 3 orang. Ada satu orang laki laki di kamar lain," kata Laura saat dihubungi reporter Tribun Medan, Jumat (10/9/2021) siang.
Laura mengakui, selama menjalani karantina mandiri makanan yang mereka dapatkan jauh dari kata layak.
Baca juga: Tergiur Upah Jutaan Rupiah untuk Antar Sabu, Dua Pedagang Asongan Dituntut 10 Tahun Penjara
Namun masih ada kerabat yang datang memberi bontot untuk mereka.
"Tapi jujur, kami gak mau menjelekkan tapi emang kenyataannya seperti semalam. Ayam kami basi, kemarinnya lagi daging sapi nya masih bau kali, terus tadi pagi kikil aja sama tempe," ujar Laura seraya menyebut terpaksa mengeluarkan uang simpanan untuk membeli makanan dari luar.
Laura juga masih mencari cara untuk mengumpulkan biaya tiket penerbangan pesawat dari Jakarta ke Kualanamu, Sumatera Utara. Ia juga tak tahu apakah mereka disambut atau tidak oleh pemerintah daerah.
"Sudah banyak yang nanya apakah kami disambut atau nggak, ya kami nggak tahu," katanya.
Disinggung bantuan apa yang diberikan pemerintah daerah saat anak-anak yang membawa nama budaya Simalungun, berangkat; khususnya Pemkab Simalungun dan Pemko Pematangsiantar, Laura pun menjelaskan jumlah yang sebenarnya jauh dari kata cukup.
"Pemko Siantar cuma bisa ngantar ke bandara sama uang Rp 1,5 juta. Katanya buat jajan, tapi gak kami pakai buat jajan, karena dana kami kan belum terkumpul penuh bg," cerita Laura.
Baca juga: Isoter Beroperasi, Pemkab Toba Makin Yakin Tangani Pandemi
Sementara Pemkab Simalungun memberi lebih, kendati juga pas-pasan untuk membantu kebutuhan para penari yang membawa budaya Simalungun tersebut.
"Dari Pak Bupati, uang pribadinya dibuat Rp 5 juta. Baru dari Dinas Pariwisata ngasih uang buat beli suvenir untuk kebutuhan silaturrahmi," katanya seraya sembari berterima kasih dengan support yang sudah datang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/selebrasi-sanggar-sihoda-saat-menunjukkan-sejumlah-plakat-di-turki.jpg)