TRIBUNWIKI

Mengenal Instrumen Investasi di Pasar Modal Beserta Untung Ruginya

Karena apapun jenis aktivitas investasinya, akan selalu merujuk pada prinsip investasi yang sesungguhnya yaitu high risk, high return dan low risk.

Dok. Humas Bank Commonwealth
Kegiatan memantau pergerakan pasar modal Indonesia. Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya memperkirakan reksa dana masih menjadi favorit investor karena faktor kemudahan, jumlah minimal investasi yang terjangkau, serta pengelolaan investasi yang dilakukan oleh Manajer Investasi (MI). 

Karena berinvestasi saham berarti ikut memiliki perusahaan tersebut, maka pemegang saham akan sama-sama menanggung risiko yang terjadi pada perusahaan dalam bentuk penurunan harga saham. Sebaliknya, pemegang saham juga akan menerima dampak positif jika kinerja perusahaan dan situasi eksternal positif, yang terefleksi pada kenaikan harga saham.

Produk investasi berikutnya yaitu surat utang negara yang diterbitkan pemerintah dan obligasi korporasi atau surat utang yang diterbitkan perusahaan.

Investor sama-sama bisa membeli obligasi dan surat utang yang ada di sistem perdagangan BEI melalui perantara sistem perdagangan milik perusahaan sekuritas atau melalui bank yang menjadi agen penjual obligasi.

Baca juga: Inter Milan Vs Bologna Malam Ini, Prediksi Skor, Mihajlovic Tekad Tambah Derita Inzaghi

Meskipun harga obligasi sama-sama bisa naik dan turun seperti saham, tetapi sifat obligasi adalah bukti peminjaman uang oleh perusahaan, yang pokok modalnya akan dikembalikan pada saat jatuh tempo.

Sehingga, meskipun harga obligasi turun jika terjadi kondisi negatif, baik akibat faktor internal maupun eksternal perusahaan, pada waktunya saat jatuh tempo, investor akan menerima pembayaran pokok atau modal. Sehingga, risiko obligasi cenderung lebih rendah daripada saham.

Selanjutnya, ETF. Produk investasi ini mirip dengan reksa dana. Keduanya dikelola oleh manajer investasi, sehingga investor tidak perlu melakukan analisa sendiri untuk memilih saham atau obligasi. Investor hanya membeli unit dari kumpulan portofolio investasi. Konsepnya seperti urunan.

Sejumlah investor membeli unit reksa dana atau ETF, dan kumpulan dana tersebut atas pengelolaan manajer investasi dibelikan saham atau obligasi, sesuai jenis reksa dana dan ETF.

Perbedaan antara ETF dan reksa dana, yaitu, ETF diperdagangkan seperti saham biasa di Bursa dengan perantara perusahaan efek, sementara reksa dana bisa dibeli dan dijual kembali langsung melalui manajer investasi atau bank yang menjadi agen penjual reksa dana.

Risiko ETF dan reksa dana tergantung pada jenisnya. Ada yang berjenis saham, campuran, pendapatan tetap (surat utang dan obligasi), dan pasar uang.

Kelebihan ETF dibanding membeli saham atau obligasi secara langsung adalah dalam hal diversifikasi produk, di mana tidak dibutuhkan keahlian khusus untuk menganalisis sehingga cocok untuk investor pemula. Nilai investasi juga relatif kecil.

Baca juga: PROMO JSM Alfamidi Minggu Ini, Raja Platinum Beras Super 5 Kg Rp 56.900

Sementara itu, produk derivatif adalah produk turunan yang berguna sebagai sarana hedging atau lindung nilai.

Investor membutuhkan pengetahuan yang cukup baik agar bisa memahami manfaat dari investasi produk ini.

Selain sebagai sarana hedging, investor sophisticated bisa menjadikan produk derivatif ini sebagai sarana berinvestasi dengan tujuan yang cenderung bersifat spekulatif dan tentunya memiliki ciri high risk, high return.

(cr9/Tribun-Medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved