Breaking News:

Sejarah Pengadilan Agama Kota Binjai, Bangunan Bersejarah Peninggalan Kolonial Belanda

Sebelum menjadi Gedung Pengadilan Agama, bangunan cagar budaya ini dulu ditempati Pengadilan Negeri Binjai selama bertahun-tahun. 

Penulis: Satia | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ SATIA
Gedung Pengadilan Agama Kota Binjai, di Jalan Sultan Hasanuddin. (TRIBUN-MEDAN.COM/HO).  

TRIBUN MEDAN.COM, BINJAI- Gedung Pengadilan Agama Kota Binjai, di Jalan Sultan Hasanuddin, ternyata bangunan yang dibangun olen Kolonial Belanda, Senin (20/9/2021).

Bangunan ini bersebelahan dengan Mapolres Kota Binjai. 

Baca juga: Sempat Viral, 3 Preman Pungli Renovasi Rumah Diamankan Polsek Medan Area

Dilansir dari berbagai sumber, gedung yang punya kubah besar ini, berdiri di atas tanah seluas 3.836 meter dan luas 552,25 meter.

Bangunan ini juga sudah didaftarkan ke cagar budaya Provinsi Sumatera Utara. 

Bangunan gedung terdiri dari satu ruang sidang utama, ruang keuangan, ruang mediasi, dan museum rumah keadilan.

Namun sayangnya, bangunan ini tidak lagu meninggalkan peninggalan sejarah Kolonial Belanda. Kini, bangunan sudah diperbarui, walau arsiteknya masih tetap sama. 

Peninggalan sejarah yang tersisa hanyalah bangunan tua dan dua pucuk meriam. Dua pucuk meriam sudah diangkut pihak PN Binjai ke kantor baru mereka di Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Binjai Barat.

Sebelum menjadi Gedung Pengadilan Agama, bangunan cagar budaya ini dulu ditempati Pengadilan Negeri Binjai selama bertahun-tahun. 

Setelah pihak PN beralih ke gedung baru, bangunan ini sempat digunakan para pegiat seni Kota Binjai sebagai sanggar tari.

Adapun fungsi bangunan ini dulunya, dijadikan tempat persidangan atau pengadilan bagi rakyat Indonesia, yang berbuat kesalahan menurut hukum Belanda. Setelah merdeka, tempat ini diambil alih pemerintah dan dijadikan Pengadilan Negeri (PN).

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved