Breaking News:

Karateka Muda Sumut Diharapkan Bisa Buat Kejutan di PON Papua 2021

Justru, atlet yang tampil perdana di PON, diharapkan bisa menyumbangkan emas sekaligus memberikan kejutan.

Penulis: Muhammad Ardiyansyah | Editor: Ayu Prasandi
HO
Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi (berdiri lima dari kanan) berfoto bersama kontingen cabor karate Sumut yang akan berlaga di PON Papua, Oktober mendatang, di Wisma Atlet Dispora Sumut 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN-Karate merupakan satu di antara cabang olahraga (cabor) yang bakal menjadi andalan bagi kontingen Sumatera Utara untuk meraih medali di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2021 Papua. 

Tidak heran, jika cabor karate diharapkan menjadi lumbung medali emas bagi Sumut. Belajar dari PON tahun 2016 di Jawa Barat, cabang olahraga tarung ini sukses mempersembahkan dua medali emas. Tahun ini, minimal pencapaian tersebut bisa kembali dipertahankan.

Baca juga: Hari Terakhir Ujian SKD CPNS, Jumlah Peserta yang Terpapar Covid-19 Bertambah Menjadi 20 Orang  

"PON tahun lalu dua, kita berupaya menyamakan itu dulu. Syukur–syukur bisa lebih," ujar Pelatih karate Sumut, Delphinus Rumahorbo, Rabu (22/9/2021) di pusat latihan FORKI Sumut, komplek Cemara Hijau.

Berkekuatan delapan atlet pada PON ke XX ini, Delphinus tentu tidak hanya berharap besar medali bisa diraih melalui atlet senior seperti Dessyinta, Wan Nurul, dan Widodo yang telah merasakan aroma persaingan di PON. 

Justru, atlet yang tampil perdana di PON, diharapkan bisa menyumbangkan emas sekaligus memberikan kejutan.

"Kita berharap mereka bisa membuat kejutan, karena mereka selama ini di kategori junior juga pernah meraih juara. Tapi, ini kan PON, yang tensinya pasti lain suasananya. Selama ini kita gembleng mereka. Nicky baru masuk tentara, kita harapkan didikan di sana bisa membangun daya juang dia," katanya. 

Selain bisa bersaing dengan karateka provinsi lain untuk memperebutkan medali, para atlet juga diharapkan mampu menjaga diri dari kondisi di luar arena pertandingan.

Baca juga: Food Non Halal: Menikmati BPK Haleluya, Rasanya Lezat dan Pas di Kantong

Mulai dari pandemi Covid -19 serta penularan penyakit malaria yang masih tinggi di Papua. 

"Saya kira mereka (atlet) sedikit banyak dengar kondisi di sana. Ada malaria, KKB, dan pandemi sekarang. pasti berpengaruh, tapi kita coba menyikapinya melalui latihan. Mudah – mudahan selama ini mereka biasa – biasa saja," katanya. 

Terkhusus selama masa pandemi Covid -19, diakui Delphinus tentu tiadanya program try out dan event menyulitkan pelatih melakukan evaluasi secara menyeluruh.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved