Breaking News:

TRIBUNWIKI

Profil Sanggar Simalungun Home Dancer, dari Panggung Pesta hingga Juara di Turki

Bersama Sanggar Gandrung dari DKI Jakarta, mereka meraih juara II dari tujuh negara peserta.

Penulis: Alija Magribi | Editor: Ayu Prasandi
Tribun Medan/ Alija Magribi
Selebrasi Sanggar Sihoda saat menunjukkan sejumlah plakat di Turki 

TRIBUN-MEDAN.com, SIMALUNGUN-  Sanggar Simalungun Home Dancer (Sihoda) telah mengharumkan nama Indonesia di ajang 34th Tufag International Folkdance Competition yang diselenggarakan di Yalova, Turki, 30 Agustus 2021 - 5 September 2021.

Bersama Sanggar Gandrung dari DKI Jakarta, mereka meraih juara II dari tujuh negara peserta.

Baca juga: Bubur Pedas Khas Melayu, Kaya Rempah dan Dipercaya Bisa Menghangatkan

Kepada dunia, mereka menampilkan Tari Medley khas Simalungun seperti 7 tari kreasi yang mentradisi di Simalungun seperti, Haruan Bolon, Manduda, Martonun, Sermadengan Dengan, Tor Tor Hon dan ada beberapa tarian medley.

Profil Sanggar Sihoda di kawasan Siantar dan Simalungun cukup terkenal. Mereka aktif menemani hiburan dan budaya setiap hajatan pernikahan, hingga event pemerintah dan swasta.

Bahkan jarang mereka juga hadir menyambut pejabat teras yang berkunjung ke Danau Toba.

Sihoda berdiri sejak 27 Januari 2014. Digagasnya sanggar tari ini adalah niatan dari seorang mahasiswi tari UNIMED waktu itu, Laura Tyas Avionita Sinaga untuk mewujudkan cita citanya sejak kecil.

Laura bercerita dahulu, saat dirinya menginjak masa kanak-kanak, dirinya sudah menyukai tari-tarian tradisi Simalungun. Baginya, Simalungun adalah identitasnya sebagai Warga Negara Indonesia. Simalungun adalah tempat tinggal dan darah dagingnya.

Baca juga: Sosok Irianto, Wasit Sepakbola Nasional Asal Sumut, Pernah Bercita-cita Jadi Pemain Sepakbola

"Kalau anak muda sekarang ada yang hampir melupakan budaya sendiri, sementara bagi saya, identitas kita justru baru bisa dilihat dari budaya kita," katanya.

Laura berujar bahwa penari-penari yang tergabung di SIHODA memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Mulai dari pelajar SMP-SMA, kuliah, dan karyawan, menyempatkan waktu dan pikirannya membesarkan warisan budaya Simalungun.

Sebelum Pandemi Covid-19, Sihoda sempat berlatih dua kali setiap minggunya. Biasanya mereka berlatih pada Hari Sabtu dan Minggu di Museum Simalungun atau Halaman Tugu Becak di Kota Pematangsiantar.

Namun jika ada event yang membutuhkan kehadiran SIHODA, mereka melakukan latihan lebih intensif.

"Latihan pun bisa pindah-pindah, agar teman teman tidak bosan. Selain itu di tempat yang baru, kan bisa berikan kesegaran untuk berlatih," jelasnya.

(alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved