Sejarah Jalan Letda Sujono Medan dan Pengorbanan Sang Pahlawan
Letda Sujono merupakan seorang anggota TNI yang menjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsy.
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN-Letda Sujono, mendengar nama pahlawan yang satu ini, tak hanya ingat akan perjuangannya, namanya juga menjadi salah satu jalan di kota Medan.
Ya, Jalan Letda Sujono merupakan jalan lintas perbatasan Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang.
Ruas Jalan Letda Sujono yang menghubungkan Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang memiliki sejarah terkait pergolakan politik di tahun 1965.
Baca juga: Ivan Gunawan Kuliti Masa Lajang Gading Marten, Ungkap Sosok Wanita Lain sebelum Menikahi Gisel
Letda Sujono merupakan seorang anggota TNI yang menjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsy.
Letda Sujono sendiri gugur saat mempertahankan lahan perkebunan Negara dari pendudukan tiga organisasi sayap PKI yaitu BTI, PR dan Gerwani.
Saat itu Letda Sujono masih berpangkat Pelda (pembantu letnan dua).
Sejarawan muda Kota Medan, Aziz mengatakan pada saat peristiwa di Bandar Betsy, ada tiga organisasi sayap PKI itu menduduki perkebunan milik negara, kalau sekarang PTPN.
"Konflik itu sendiri pecah pada 14 Mei 1965. Di mana Sujono masih berpangkat Pelda (Pembantu Letnan Dua).
Sujono merupakan penjaga kebun, ketika tiga organisasi tiga sayap PKI menduduki perkebunan," ujarnya, Kamis (30/9/2021).
Letda Sujono, lanjutnya sebagai penjaga pada saat itu mencoba untuk melerai dan menghalangi percobaan itu.
Namun nahas, Letda Sujono malah menjadi korban.
"Ia ditangkap, ada sumber yang mengatakan dia disiksa dulu, ada yang mengatakan dia langsung dibunuh ketika itu," bebernya.
Kabar kematian Pelda Sujono pun tersiar bahkan sampai ibu Kota pada masa itu, Jakarta.
Lanjut Aziz mengatakan, Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani marah besar atas kejadian itu dan meminta agar kejadian itu diusut tuntas.
Baca juga: Pantai Sri Mersing, Hadirkan Pemandangan Hamparan Pasir Putih dan Payung Warna-warni
"Ada perundingan di TNI. Di mana Ahmad Yani mengkhawatirkan timbulnya anarki dalam negara kalau kasus ini dibiarkan," katanya.
Pada 15 Juli 1965 bertepatan pada kegiatan HUT Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Letnan Jenderal Ahmad Yani meluapkan kemarahannya.
"RPKAD harus tetap memelihara kesiapsiagaan yang merupakan ciri khasnya dalam keadaan apapun, terutama dalam keadaan gawat ini. Asah pisau komandomu, bersihkan senjatamu," tegas Yani kepada prajurit.
Aziz kembali menjelaskan, saat itu sebagai bentuk penghormatan TNI menaikan pangkat Sujono dari Pelda menjadi Letda.
"Karena heroisme yang dilakukan Pelda Sudjono ini, maka Pelda Sujono dianugerahkan kenaikan pangkat dua tingkat.
Tidak hanya itu, bentuk pengorbanan Pelda Sujono kemudian diabadikan sebagai nama jalan di Medan," ujarnya.
"Karena itulah jalan penghubung Kota Medan dan Deliserdang, jalan provinsi, diabadikan sebagai nama jalan sebagai bentuk penghormatan Pemerintah yang mengorbankan dirinya," ucap Aziz.
Baca juga: Berkunjung ke Samosir, Ini Tarif Penyeberangan dari Dermaga Ajibata
Tidak hanya memberi penghargaan, membuat namanya menjadi nama jalan, Pemerintah juga membangun Tugu Letda Sujono yang berada di tengah perkebunan karet Bandar Betsy Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun.
Selain itu di pusat kota Medan, persisnya tak jauh dari Stasiun Kereta Api, juga terdapat Monumen Perjuangan Angkatan 66.
Di mana dalam ukiran itu terdapat relief kematian Letda Sujono yang dibantai PKI secara sadis.
(mft/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/jalan-letda-sujono-kota-medan.jpg)