TRIBUNWIKI

Tari Baka, Tarian Suku Karo yang Dipercaya untuk Menyembuhkan Penyakit

Tari Baka sendiri berasal dari Upacara Gendang Baka yang memiliki beberapa tahapan yaitu Upacara Adat, Erpangir Ku Lau, dan Tari Baka. 

Editor: Ayu Prasandi
HO
Beberapa Gadis Muda menarikan Tari Baka dalam suatu acara  

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Tari Baka atau tarian Gendang Baka merupakan tarian daerah yang berasal dari Karo, Sumatera Utara yang biasa digunakan oleh Guru (orang pintar) untuk menyembuhkan seseorang dari penyakit.

Dahulu, dalam proses penyembuhan di Tanah Karo, orang pintar  membuat geraka seperti menari dilengkapi dengan peralatan seperti  keranjang dan mangkok khusus, untuk tempat ramuan-ramuan obat yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.

Tari Baka sendiri berasal dari Upacara Gendang Baka yang memiliki beberapa tahapan yaitu Upacara Adat, Erpangir Ku Lau, dan Tari Baka. 

Dari ketiga acara tersebut tari Baka dan Erpangir Kulau masih dapat dilihat di beberapa desa di tanah Karo, walau dalam bentuk dan durasi yang berbeda-beda. 

Dilansir dari Jurnal Seni Tari Universitas Negeri Medan menyebutkan, bahwa dahulu durasi tari Baka tidak 
ada ketentuan khusus, semua berjalan sesuai dengan kebutuhan upacara hingga proses upacara terpenuhi.

Akan tetapi, apabila dilihat dari penyajian sekarang, durasi berkisar antara 8-9 menit.

Dulunya upacara Gendang Baka ini dilaksanakan ketika ada masyarakat yang sedang sakit atau tendinya (jiwanya) lemah melalui beberapa aturan tradisi, agar masyarakat tersebut dapat sembuh dan tendi nya kembali menjadi kuat. 

Baca juga: Karier MC Pria Ini Berakhir Gegara Aksi Gilanya di TV, Nekat Cicipi ASI Dengan Cara tak Senonoh

Namun, ketika tidak ada yang sakit ritual ini sama sekali tidak dilakukan.

Pada saat upacara Gendang Baka harus ditarikan atau di bawakan oleh perempuan dan dalam bentuk pertunjukan pun tetap sama. 

Dahulu, Tari Baka dilakukan di rumah setelah melakukan Erpangir Ku Lau.

Menari dengan Baka atau Keranjang dilakukan oleh enam guru untuk menguatkan tendi dan memanggil roh 
Jinujung (pelindung roh). 

Keenam Guru yang menari tersebut pun semuanya harus berjenis kelamin  perempuan.

Seluruh bentuk gerak tarian menunjukkan posisi perempuan seperti halnya Erjujung, membawa Sumpit berisi Beras, membawa Mumbang, kampil dan Lau Penguras.

Sedangkan busana yang digunakan pada saat pertunjukan Gendang Baka yaitu pakaian tradisionao suku Kari bernama Uis Mbelang dan Uis Mentar. 

Sementara itu, alat musik yang digunakan yaitu Kulcapi, Keten-keteng, dan Mangkuk. Durasi Gendang Baka pada saat upacara, berbeda dengan pada saat pertunjukan. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved