Breaking News:

MotoGP

Balapan Terakhir Valentino Rossi, dan Sirkuit pun tak Menguning Lagi

Setelah 25 tahun –lebih separuh dari usianya– secara terus menerus tanpa putus membalap dari sirkuit ke sirkuit, Valentino Rossi memutuskan berhenti.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/JOSE JORDAN
PEMBALAP Valentino Rossi memberikan salam kepada penonton di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, usai balapan seri terakhir MotoGP 2021, Minggu (14/11/2021). Setelah membalap sejak tahun 1996, Valentino Rossi memutuskan untuk pensiun. 

PUTARAN ke 27 di Sirkuit Ricardo Tomo Valencia. Garis akhir. Menandai sekaligus dua hal: penghujung MotoGP musim kompetisi 2021 dan pengukuhan gelar juara dunia bagi Fabio Quartararo. Namun ada yang ketiga, dan ini sesungguhnya yang paling penting.

Quartararo boleh juara dunia. Francesco Bagnaia boleh bersorak atas keberhasilannya memenangi seri pamungkas. Namun di Ricardo Tomo, Minggu, 14 November 2021, penonton yang memenuhi tribun-tribun sirkuit memberikan sambutan sepenuh jiwa raga mereka untuk Valentino Rossi.

Padahal hari itu dia hanya menyelesaikan balapan di posisi sepuluh (tidak begeser dari posisi start), tapi publik Ricardo Como tak peduli. Bahkan sebelum balapan dimulai pun sirkuit sudah dipenuhsesaki warna kuning; bendera besar dan kecil, baju-baju, poster, juga spanduk. Nomor 46, dalam beragam wujud cetakan (hanya angka, dikombinasi berwajah Valentino Rossi maupun yang bertuliskan ‘Grazie’ dan ‘Gracies’; terima kasih), berserak di hampir semua sudut.

PARA penonton memberikan aplaus pada Valentino Rossi pada balapan di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol, Minggu (14/11)
PARA penonton memberikan aplaus pada Valentino Rossi pada balapan di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol, Minggu (14/11) (AFP PHOTO/JOSE JORDAN)

Suporter Quartararo, suporter Francesco Bagnaia, Joan Mir, Jack Miller, Maverick Vinales, termasuk fans-fans fanatik garis keras Marc Marquez, hari itu, secara sadar --dan sukarela– melepas identitas mereka. Hari itu, bukan cuma mereka yang datang ke Valencia, kandang bagi pembalap-pembalap Spanyol, para penonton balapan motor di seluruh dunia pun bersatu suara dan berdiri untuk Valentino Rossi.

Begitulah, Rossi (orang-orang terdekatnya memanggil Vale), lelaki 42 tahun kelahiran Urbino, Italia, ini memang pantas mendapatkan hormat sedemikian tinggi. Setelah 25 tahun –lebih separuh dari usianya– secara terus menerus tanpa putus membalap dari sirkuit ke sirkuit, Rossi memutuskan berhenti.

"Jadi ini memang akhirnya. Saya baik-baik saja. Namun belakangan ini saya pulih lebih lambat dari tahun-tahun sebelumnya. Saya sudah tua."

Tahun 1997, Rossi menjadi juara dunia untuk pertama kali. Ia memenangi kelas 125 cc. Tahun keduanya di kelas ini. Dari total 15 seri balapan, Rossi menang 11 kali, termasuk balapan yang digelar di Sirkuit Sentul, Bogor, 28 September. Di tahun yang sama, Joan Mir, juara dunia tahun lalu, lahir di Palma de Mallorca. Dia lahir pada 1 September, atau persis 13 hari sebelum Rossi memenangkan seri GP Spanyol di Catalunya.

VALENTINO Rossi melakukan selebrasi unik saat menjadi juara dunia kelas 125 cc pada tahun 1997
VALENTINO Rossi melakukan selebrasi unik saat menjadi juara dunia kelas 125 cc pada tahun 1997 (MotoGP.com)

Francesco Bagnania alias Peco, lahir di tahun yang sama. Adapun Fabio Quartararo baru lahir dua tahun kemudian. Saat itu Rossi sudah pindah ke kelas 250 cc dan jadi juara dunia pula. Ia memenangkan sembilan dari total 16 seri balapan.

"Sejujurnya saya masih merasa seperti laki-laki 25 tahun. Masih sangat bersemangat. Namun itu perasaan saya saja. Secara fisik saya 42, dan saya dikelilingi, saya beradu cepat dengan pebalap-pembalap lain yang rata-rata memang berusia 25. Saya mungkin masih bisa cepat, tapi mereka pulih lebih cepat dari saya," kata Rossi dalam bahasa Italia, saat tampil di program 'La Iene' di kanal Italia 1. Wawancara ini kemudian mendunia setelah dimuat ulang dalam bahasa Inggris di laman motorcyclesports.

Olahraga balap motor, kelas MotoGP khususnya, memang menuntut pembalap-pembalapnya selalu berada dalam kondisi fisik sempurna. Prima 100 persen. Motor yang berat dan bertenaga besar, down force, tekanan angin, juga panas aspal sirkuit, amat sangat menguras tenaga. Lengah sedikit, hilang konsentrasi, bisa terjerembab, dan peluang yang sudah membentang di depan mata akan sirna seketika. Rossi akhirnya menyadari, pada usia 42, kemampuan alamiah tubuhnya untuk kembali bugar setelah terkuras betul-betul habis, tidak lagi secepat ketika ia masih berumur dua puluhan sampai awal-awal tiga puluhan.

"Musim ini saya menandatangani kontrak satu tahun dengan opsi perpanjangan setahun. Saya mencoba. Sekiranya masih bisa menyentuh podium, atau setidak-tidaknya secara konsisten masuk di jajaran lima besar, saya akan terus. Sebaliknya, jika tidak, saya kira memang tidak ada gunanya saya bekerja keras lagi. Sudah waktunya untuk berhenti," ujarnya.

Teknologi Elektrik
Valentino Rossi menjuluki dirinya sendiri 'Doctor'. Seorang ahli. Julukan ini diapungkannya pascameraih gelar juara dunia ketiga (dari total sembilan) di tahun 2001. Tahun atau musim peralihan dari kelas 500 cc ke MotoGP yang mengusung mesin 4 Tak. Apakah ia bermaksud menyombong? Rossi menampik. Bilangnya seraya tertawa-tawa dalam satu wawancara, di negaranya, nama 'Rossi' adalah nama yang elite. Pada umumnya adalah seorang doktor --ahli medis maupun akademi.

"Yang lainnya pemain sepak bola. Cuma saya yang pembalap. Karena itu, barangkali, saya memang istimewa," katanya.

Ini julukan ketiga. Sebelumnya, Rossi juga menabalkan dua julukan lain untuk dirinya yakni 'Valentinik' dan 'Rossifumi'. Julukan 'Valentinik' konon dipetiknya dari kartun Disney, Donald Duck [di Italia disebut dengan nama 'Paperino'].

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved