MotoGP
Balapan Terakhir Valentino Rossi, dan Sirkuit pun tak Menguning Lagi
Setelah 25 tahun –lebih separuh dari usianya– secara terus menerus tanpa putus membalap dari sirkuit ke sirkuit, Valentino Rossi memutuskan berhenti.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Adapun 'Rossifumi' merupakan semacam bentuk kekagumannya pada Norifumi Abe, pembalap motor Jepang. Abe pada mulanya mendapatkan wild card untuk tampil di seri grand prix Jepang tahun 1994, dan secara mengejutkan, setidaknya sampai lap 19, menjadi penantang serius bagi dua pembalap yang kala itu merajai kelas 500 cc, Kevin Schwantz dan Michael Doohan. Abe akhirnya terjatuh, saat berada di barisan depan di antara Schwantz dan Doohan, tapi balapan di Sirkuit Suzuka ini membekas sangat kuat di ingatan Rossi yang kala itu masih berusia 14.
Abe cenderung membalap secara nekat. Namun dia berteknik tinggi. Terutama saat memasuki dan melepaskan diri dari tikungan. Rossi memadukan keduanya, lalu menyempurnakannya dengan kesabaran dan kecermatan perhitungan yang sebelumnya jadi kekuatan legenda Italia pemegang rekor 15 gelar juara dunia, Giancomo Agostini.
Pendeknya, Rossi membalap dengan mengandalkan teknik, dan inilah pula yang --di lain sisi-- membuatnya berada dalam kesulitan tatkala otoritas MotoGP nyaris secara konsisten dan berkesinambungan menanamkan panel-panel elektrik yang makin canggih dan rumit ke motor tunggangan. Rossi kesulitan beradaptasi.
Terhitung sejak 2017, meski masih selalu wara-wiri di kelompok lima besar, ia tidak pernah lagi merasakan podium juara. Musim ini paling parah. Dari balapan-balapan sebelum GP Valencia, dia hanya menyelesaikan delapan di antaranya. Dan dari yang delapan ini, hanya tiga kali masuk jajaran sepuluh besar.
Faktor lain barangkali keluarga. Agustus lalu, Rossi mengumumkan kehamilan pasangannya, Fransesca Sofia Novello. “Sekiranya saya masih muda, mungkin masih ada waktu untuk kembali. Bagaimana saya memikirkannya, lalu bangkit untuk lebih baik. Sekarang tidak lagi. Tidak ada waktu lagi,” katanya.
Maka memang pada akhirnya semua harus berkesudahan. Muhammad Ali, Diego Maradona, Michael Jordan. Dan kini Rossi. Ketika waktunya tiba, tak peduli sehebat apapun, maestro sebesar apapun, semua akan menepi. Menjauh dari hiruk pikuk panggung yang cemerlang.
It may be farewell but not goodbye, kata superstar pop Inggris Elton John, dan kalimat ini dikutip dan dijadikan judul tulisan yang dipersembahkan bagi Valentino Rossi di laman resmi MotoGP. Tentu saja, secara harfiah kalimat ini seratus persen benar. Rossi memang belum sepenuhnya pergi. Da masih akan berada di dekat-dekat sirkuit. Dia punya tim, Sky Racing Team VR46, yang berlaga di kelas Moto3 (250 cc) dan Moto2 (600 cc), dan boleh jadi tak lama lagi di MotoGP.
Namun akan ada beda besar. Setelah Valencia 2021, kehadirannya tidak lagi disambut dengan lautan bendera besar dan kecil, baju-baju, poster, spanduk, bahkan asap flaire serba kuning. Tidak ada lagi nomor 46. Ricarco Tomo, Minggu, 14 November 2021, adalah puncaknya.
Para penonton menepikan larangan penyelenggara balapan. Mereka membakar flaire. Asap kuning pun berkepul-kepul, dan nomor ini, ikut membubung dibawa angin ke langit.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/valentino-5.jpg)