Breaking News:

Sejarah dan Pembentukan Taman Nasional Gunung Lauser, Belanda Ternyata Ikut Andil

Tahun 1976 ditetapkan kawasan Suaka Margasatwa Kappi di Provinsi Aceh dengan luas 142.000 Ha.

Penulis: Satia | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/HO
SEEKOR orangutan Sumatera, terlihat di kawasan hutan yang berbatasan dengan kawasan TNGL Kabupaten Langkat, Selasa (14/7/2020). 

TRIBUN MEDAN.COM, LANGKAT - Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL) yang berada di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, ternyata ada kaitannya dengan Pemerintahan Kolonial Belanda

Dilansir dari Wikipedia, sejarah terbentuknya TNGL diawali pada tahun 1920-an atau zaman Pemerintah Kolonial Belanda, melalui serangkaian proses penelitian dan eksplorasi seorang ahli geologi Belanda bernama F.C. Van Heurn di Aceh.

Baca juga: PANGLIMA Jenderal Andika Buka Suara Terkait Kasus Arteria Dahlan VS Kerabat Perwira Tinggi TNI

Dalam perkembangannya muncul inisiasi positif yang didukung para tokoh masyarakat untuk mendesak Pemerintah Kolonial Belanda agar memberikan status kawasan konservasi (Wildlife Sanctuary) dan status perlindungan terhadap kawasan yang terbentang dari Singkil (pada hulu Sungai Simpang Kiri) di bagian selatan, sepanjang Bukit Barisan, ke arah lembah Sungai Tripa dan Rawa Pantai Meulaboh, di bagian utara.

Pada tanggal 6 Februari 1934, dilaksanakan Deklarasi Tapak Tuan yang merupakan tekad dari perwakilan masyarakat lokal di sekitar kawasan leuser untuk melakukan perlindungan lingkungan sekaligus mengatur sanksi pidana. 

Deklarasi ini juga ditandatangani oleh Gubernur Hindia Belanda. Berdasarkan hal tersebut, pada tanggal 3 Juli 1934 ditetapkan Suaka Margasatwa Gunung Leuser dengan luas 142.800 Ha berdasarkan Zelfbestuur Besluit (ZB) Nomor 317/35. 

Tahun 1936 ditetapkan kawasan Suaka Margasatwa Kluet di Provinsi Aceh dengan luas 20.000 Ha.

Tahun 1938 ditetapkan kawasan Suaka Margasatwa Langkat di Provinsi Sumut dengan luas 51.000 Ha.

Tahun 1976 ditetapkan kawasan Suaka Margasatwa Kappi di Provinsi Aceh dengan luas 142.000 Ha.

Pada tanggal 6 Maret 1980 Menteri Pertanian mengumumkan keempat suaka margasatwa tersebut dan beberapa hutan wisata sebagai di sekitarnya sebagai kawasan taman nasional.

Baca juga: Jembatan Penghubung Dua Kabupaten di Dolok Merawan Putus karena Banjir

Pada tahun 1984, wilayah kerja TNGL ditetapkan mencakup 5 kawasan Suaka Margasatwa dan 2 Hutan Wisata, seluas 862.975 Ha.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved