Kilas Balik Villa Maripro Laukawar, Pondok Pelepas Rindu kepada Ayah

Setahun berlalu, vila yang diinginkan oleh Paksana pun berdiri sesuai dengan keinginan.

Penulis: Muhammad Tazli | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN
Suasana di Villa Maripro 

TRIBUN-MEDAN.com- Menawarkan suasana tenang dengan alam yang asri, Villa Maripro Laukawar kini menjadi pilihan banyak orang untuk mengisi liburan bersama keluarga.

Siapa yang tidak takjub, berlibur di tempat ini disuguhi pemandangan alam yang hijau, kolam renang estetik, tempat bermalam yang didesain unik, dan keseruan lain, seperti kamping dengan tenda masing-masing, atau bubble tent yang nyaman.

Dan satu lagi, asyiknya bermain kano di Danau Laukawar,kaki Gunung Sinabung.

Pengunjung bermain kano di Danau Laukawar,kaki Gunung Sinabung.
Pengunjung bermain kano di Danau Laukawar,kaki Gunung Sinabung.

Tapi, di balik nama Villa Maripro Laukawar yang kini sangat populer, ada sejarah yang tidak banyak orang mengetahuinya.

Baca juga: SOSOK Rita Wizni, Pembisnis yang Muliakan Penghapal Alquran dengan Bangun Rumah Tahfiz Gratis 

Di tahun pertama kepergian ayah menuju alam yang lebih tenang, Paksana Ginting menjenguk tempat yang biasa disinggahi sang ayah, Sikap Ginting, yaitu Danau Laukawar yang terletak di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo.

Semasa hidup, di tepian danau di kaki Gunung Sinabung ini biasanya Sikap Ginting mengisi waktu untuk memancing dan menenangkan diri bersama buah hatinya, Paksana.

Di waktu itu, Paksana berpikir bagaimana caranya agar ia bisa sesering mungkin untuk menjenguk tempat ini, sebagai pelepas rindu kepada ayah, yang telah berpulang. Beruntung, orang desa menawarkan sebidang tanah, tepat di pinggir Danau Laukawar, di kaki Gunung Sinabung.

Setelah berpikir panjang, di tahun 1992, Paksana memutuskan untuk membeli tanah milik kerabat Sang Ayah tersebut.

“Jadi, bapak ketemu sama orang di desa ini. Kawan-kawan kakek dulu lah. Mereka menawarkan tanah untuk dijual. Kemudian bapak membelinya, supaya dia bisa datang ke sini untuk mengobati rindunya,” ujar Paul Ginting, anak dari Paksana Ginting dan Tati Karniati, yang kini turut mengelola Villa Maripro.

Paul bercerita, dulunya lahan ini merupakan ladang milik warga, tidak ada pohon-pohon seperti saat ini.

Kemudian, Sang Ayah mendirikan pondok untuk tempat mereka singgah ketika mengunjungi tempat ini.

“Kalau pohon cemara angin yang ada sekarang ini, itu ibu yang tanam. Sekarang sudah sebesar ini. Dulu ya kami sering ke sini bersama ibu dan bapak, saya selalu dibawa. Kami cuma punya pondok, untuk sekadar singgah, makan dan kadang menginap,” tambah Paul.

Setelah memiliki kesanggupan secara finansial, di tahun 2010, Paksana pun berkeinginan untuk mendirikan bangunan yang lebih baik lagi, dibanding sekadar pondok tempat berteduh.

Baca juga: Pelleng, Makanan Tradisional Khas Suku Pakpak yang Terbuat dari Nasi

Menunjuk seorang arsitektur ternama dari Tanah Jawa, Adi Purnomo untuk meracik desain, pembangunan Villa Maripro Laukawar pun mulai dirancang.

“Itu waktu pembangunannya sekitar 1 tahun. Karena Mas Adi Purnomo itu seorang seniman, untuk memikirkan desainnya saja, dia harus kamping di tempat ini. Semacam mencari inspirasi. Setelah delapan bulan, barulah mulai dibangun,” ungkap Paul.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved