Bencana di Madina

Hutan Digunduli dan Sungai Dicemari, Pemkab Madina 'Tutup Mata' Atas Kerusakan Alam

Bencana ekologis yang terjadi di Kabupaten Madina tak terlepas dari kurang pekanya pemerintah dalam kerusakan lingkungan

Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/HO
Update Banjir di kawasan Kabupaten Mandailing Natal, Minggu (19/12/2021). 

TRIBUN-MEDAN.COM,MADINA- Bencana ekologis berupa banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) bukan tanpa sebab.

Semua bencana yang terjadi akhir-akhir ini tak terlepas dari kerusakan hutan dan sungai yang ada di Kabupaten Madina.

Bim Harahap, aktivis lingkungan Pantai Barat mengatakan, banyak hutan digunduli dan sungai dicemari.

Dia menceritakan, bahwa bencana yang terjadi ini buka karena curah hujan yang tinggi, tapi karena ketidakpekaan Pemkab Madina atas kerusakan lingkungan di wilayahnya. 

"Pemerintah beralasan bahwa bencana ini karena hujan lebat, itu salah," kata Bim, Minggu (19/12/2021).

Bim mencontohkan soal kerusakan alam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Madina.

Sungai Batang Natal, kata Bim, dahulunya sangat jernih dan menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Tapi sekarang, sungai Batang Natal menjadi keruh karena aktivitas penambangan ilegal.

"Sepanjang 22 kilometer sungai tersebut dicincang sedemikian rupa demi penambangan. Ekskavator bekerja 24 jam," kata Bim.

Akibat pengerukan sungai dan penambangan ini, wilayah yang terdampak justru 33 kilometer dari sungai.

Bukan cuma itu, limbah dan racun sisa penambangan terbawa hingga ke laut.

Dampaknya, laut bukan cuma keruh, tapi juga ekosistem laut rusak.

Ikan sudah sulit ditemui akibat limbah atau racun yang terbawa dari tambang menuju laut.

Para nelayan pun cuma bisa gigit jari atas masalah ini.

Sementara itu, Pemkab Madina sama tidak pernah melihat masalah ini.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved