Hellstayer, Band Thrash Metal dari Lubuk Pakam, Sudah Berusia Lebih dari 22 Tahun
Hellstayer sudah berusia kurang lebih 22 tahun dimana telah mengeluarkan EP (Extended Play) yang berjudul Ready For Blood.
Penulis: Abdan Syakuro | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com- Hellstayer merupakan grup band beraliran Thrash Metal memiliki ciri tempo musik cepat dan agresif asal Lubuk Pakam yang patut dilihat penampilannya.
Hellstayer mulai aktif tahun 1999 sampai dengan sekarang.
Hellstayer saat ini beranggotakan Zaldi (Bass/Vocal), Rofiqi (Gitar), Dadang (Gitar), Zuna (Gitar), Fendi (Drum). Tampil pertama kali 24 Juli 1999 di GOR Lubuk Pakam.
Baca juga: Promo Hypermart Sun Plaza Spesial Natal, Minyak Bimoli 2L Hanya Rp37.990
"Jadi memang gitaris kami tiga orang, cuma belum tentu setiap acara bisa turun bertiga, keseringan berdua, jadi salah satu itu biasanya selalu ada hambatan, kecuali pernah sekali kita waktu main di Pantai Cermin, kita turun dengan tiga gitaris," kata Zaldi, Vocal Hellstayer.
Hellstayer sudah berusia kurang lebih 22 tahun dimana telah mengeluarkan EP (Extended Play) yang berjudul Ready For Blood.
"Dari tahun 1999 sampai dengan sekarang baru ngeluarin EP judulnya Ready For Blood di tahun 2019 yang berisikan 5 lagu, di album itu juga melibatkan musisi Nasional, kami ada ikut kompilasi yang di rilis oleh Djarum Bold The Road, kita mengirim satu lagu disitu judulnya Mamak. Pengalaman manggung paling jauh di Bandar Lampung, kalo sekitar ini Medan, Batubara, Sumatera Utara," ucap Zaldi.
Gaya musikalitas Hellstayer lebih terinfluence dari Sepultura.
Dimana orientasi musik Sepultura memainkan Trash gaya Eropa dan Death Metal gaya Amerika.
"Lagu - lagu Hellstayer keseringan ya menceritakan permasalahan sehari - hari sih, waktu misalnya ada judul lagu kami Ketika Sempak Bertasbih itu menceritakan kehidupan demograsi yang pada tahun 2019 itu sangat riuh gitu, jadi disitu munculnya Ketika Sempak Bertasbih itu ya tentang kalo tidak salah pas dekat - dekat Pilpres (Pemilihan Presiden).
Dewi Sembret menceritakan tentang seorang PSK (Pekerja Seks Komersial) yang menjalin cinta kepada pria yang baik - baik aja, dan itu ya bisa dibilang termasuk pengalaman pribadi mantan personil.
Jadi kalo lagu Mamak itu sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua, ya iseng - iseng aja yok kita buat judulnya Mamak.
Ada juga Ready For Blood yang menjadi judul EP tentang kesiapan sebuah Band apapun yang terjadi diatas panggung, ya misalnya main tidak dibayar, sementara band kita tetap harus jalan, jadi kami terjemahkan dalam lagu Ready For Blood itu, DIY (Do It Yourself)," kata Zaldi.
Setiap scene musik pasti ada pasang - surutnya. Ini juga terjadi pada Scene Metal Medan dimana membangkitkan gejolak yang sudah lama terpendam untuk tetap eksis dalam kancah musik di Kota Medan.
"Scene Metal ini kan dari dulu tidak termasuk band yang ekslusif, tidak banyak orang yang tau Metal itu, jadi dari dulu sampai sekarang kalo dilihat dari kacamata umum ya dilihatnya oh Metal gini - gini aja, tapi kalo orang scene-nya tetap bergerak ya cuma untuk dua tahun ini memang tidak ada perkembangan karena adanya Covid-19," ucap Zaldi.
Baca juga: Setelah Jadi KSAD, Jendral TNI Dudung Abdurachman Ditunjuk Jadi Komisaris BUMN
Hellstayer juga menyerap banyak influence dari band lokal maupun luar negeri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Aksi-panggung-band-pembuka-Hellstayer.jpg)