Breaking News:

Gereja Paroki Santo Yosef Parsoburan, Dibentuk dari Kemandirian Walau dalam Kesulitan

Gereja Katolik Paroki Santo Yosef ini berada di Desa Parsoburan Tengah, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba. 

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/MAURITS PARDOSI
Gereja Katolik Santo Yosef Parsoburan berada di Desa Parsoburan Tengah, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba. Terlihat suasana interior gereja pada masa Natal, Desember 2021.   

TRIBUN-MEDAN.com, TOBA - Sebuah bangunan gereja yang megah di tengah desa ini menjadi sesuatu yang unik.

Gereja Katolik Paroki Santo Yosef ini berada di Desa Parsoburan Tengah, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba. 

Pada tahun 1952, gereja katolik ini disahkan oleh pihak keuskupan menjadi paroki – pemekaran dari Paroki Santo Yosef Balige. Satu tahun setelah disahkan menjadi paroki, misionaris kapusin dari Belanda tinggal di Parsoburan.
 
Seorang biarawan berjubah coklat Pastor Rochus Raessens dipilih menjadi misionaris ke Sumatera pada tahun 1950. Dan pada tahun 1953, ia memulai misi kekatolikan di Parsoburan. 

Pastor tersebut langsung berkoordinasi dengan umat di sekitar Parsoburan.

Berkat kebaikan masyarakat di Parsoburan, ia berhasil mendapatkan tanah sebagai tempat bangunan; klinik, gereja, dan sekolah. Selama 4 tahun, pembangunan gereja, sekolah, dan klinik pun terjadi. 

Pada misi awal, ia bermisi dengan memperkenalkan dunia medis kepada masyarakat di Parsoburan. Tentu, masyarakat di Parsoburan menyambut kedatangan pastor “parubat” ini dengan senang hati. 

Setiap hari, selalu ada orang yang disembuhkan pastor tersebut. Dia tidak hanya tinggal di pastoran, malah lebih sering berkunjung ke rumah masyarakat. Inilah salah satu rutinitasnya. 

Baca juga: Gereja Katolik Paroki Santo Yosef Balige, Dikenal Sebagai Nazarethnya Tanah Batak

Tidak bisa dipungkiri, umat di Parsoburan semakin bertambah setelah kedatangan misionaris. Selama lima tahun (1953-1958), ia telah memberi diri secara utuh dan ia harus pindah. 

Begitulah pergantian para misionaris hingga imam pribumi di Parsoburan. Dan pada perjalanan selanjutnya, gereja ini akhirnya diganti dengan bangunan baru. 

Kini, terlihat bangunan megah yang interiornya seperti amphitheater di Romawi.

Dari percakapan singkat dengan imam yang melayani di gereja tersebut, pihaknya bersinergi dengan umat dan para donatur yang berbaik hati hingga sanggup mendirikan bangunan tersebut.

(cr3/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved