Breaking News:

Sumut Eksportir Sarang Walet Terbesar, Nilainya Hampir Rp 1 Triliun

"Ekspor terbesar di Indonesia itu dari Balai Karantina Pertanian Medan untuk sarang burung walet dengan nilai hampir Rp 1 triliun.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Pekerja melakukan proses produksi sarang burung walet sebelum di ekspor, di MMTC, Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Potensi komoditi sarang burung walet asal Sumatera Utara ternyata memiliki nilai jual tinggi. Berdasarkan keterangan dari Kepala Karantina Pertanian Medan Lenny Hartati Harahap,  Sumut menjadi pengekspor sarang walet terbesar di Indonesia.

Ada pun daerah penghasil sarang walet terbanyak di Sumut, diantaranya Medan, Langkat, Deliserdang, dan Sergai.

"Ekspor terbesar di Indonesia itu dari Balai Karantina Pertanian Medan untuk sarang burung walet dengan nilai hampir Rp 1 triliun," ungkap Lenny, Rabu (5/1/2022).

Lenny mengatakan, untuk sarang walet ini, negara tujuan ekspor terbesar yaitu China dengan menetapkan persyaratan ketat yang harus dipenuhi oleh negara asal ekspor.

"Kalau negara China itu, kebunnya harus teregistasi dan di-acc oleh China dulu setelah itu rumah kemasnya juga harus teregistrasi karena terkait dengan bagaimana prosesnya dan keamanan pangannya. Kalau sudah di-acc baru kita ekspor," ujarnya.

Baca juga: Permintaan Meningkat, Wamendag Lepas Ekspor Sarang Burung Walet dan Keripik Singkong

Dalam ekspor sarang walet ini, Balai Karantina Pertanian Medan ini sudah mendapatkan tujuh perusahaan yang sudah mendapat persetujuan The General Administration of Customs of the People's Republic of China (GACC) untuk ekspor sarang burung walet.

Sementara itu, agar turut mendorong para eksportir melengkapi syarat-syarat ekspor, Karantina Pertanian Medan juga turut bekerjasama dengan Angkasapura dan Bea Cukai Kualanamu.

"Kita akan sama-sama memberikan bimbingan kepada petani, eksportir, dan juga mengajak Dinas Pertanian Sumut. Karena persyaratan eksportir bukan hanya di Karantina saja, tetapi ada juga dari Angkasa Pura mengenai pengangkutan dan juga bea cukai itu dari kepabeanannya. Itu semua akan kita edukasi," kata Lenny.

Tak hanya itu, Balai Karantina Pertanian Medan juga gencar mengirim sampel-sampel komoditas asal Sumatera Utara seperti vanili, andaliman, daun kelor, lipan yang diambil dari kelapa sawit, lobak, dan lainnya.

"Pengiriman sampel perdana ini penting sebagai ujung tombak sehingga waktu pengiriman sampel perdana ini kita benar-benar memeriksanya baik dari sisi organisme tumbuhan karantinanya mau pun hama penyakit hewan karantinanya," pungkasnya.

 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved