Catatan Sepak Bola

Tak Cuma Newcastle United, Pangeran Arab Ternyata Juga Tertarik Beli PSMS Medan

Manajemen PSMS, yang dijalankan dengan sistem yang hampir tak ada bedanya dari kebanyakan organisasi kepemudaan atau majelis taklim, menampik tawaran.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP/Tribun Medan
Foto combo Pangeran Mohammed bin Salman Al Saud 

KONON, saat akan membeli Newscastle United, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman Al Saud, juga tertarik untuk membeli PSMS. Walau pun klub yang bermarkas di Medan ini lapuk dan sudah lama sekali tidak juara, Pangeran mendapatkan satu informasi yang membuatnya merasa tidak rugi jika mendapatkannya.

PSMS punya basis suporter yang sangat kuat dan fanatik pula. Suporter bertipikal penghuni surga. Mirip-mirip suporter Arsenal, para suporter PSMS selama bertahun-tahun telah belajar untuk senantiasa bersyukur dan bersabar.

Seburuk dan semenjengkelkan dan semengesalkan apapun permainan PSMS, mereka akan selalu menyambutnya dengan gegap gempita. Tetap bernyanyi. Tetap menuliskan komentar-komentar yang menyejukkan lagi bijak di media sosial.

Pangeran Mohammed bin Salman Al Saud terpana, lalu menitikkan air mata. Baginya ini modal sangat berharga. Paling tidak, saat tim bermain, dia tidak perlu mengeluarkan duit tambahan untuk sekadar mendatangkan penonton-penonton bayaran.

Maka, melalui Public Investment Fund (PIF) bersama PCP Capital Partners dan RB Sport & Media –perusahaan-perusahaan konsorsium yang membeli Newcastle United– Pangeran menyiapkan uang untuk mengakuisisi PSMS. Tentu jumlahnya tidak sampai 300 juta poundsterling atawa Rp 5,8 triliun. Bagaimana pun PSMS cuma klub lapuk yang sudah lama sekali tidak juara dan hanya berkutat di kasta kedua kompetisi sepak bola Indonesia yang serba brutal, kampungan, penuh drama dan korup pula.

Jumlah persisnya berapa memang masih tanda tanya. Namun satu yang pasti, menurut bisik-bisik, jumlah itu masih lebih besar dibanding dana operasional seluruh klub kontestan Liga 1 selama lima musim kompetisi yang dijalankan tanpa jeda.

Mestinya tidak ada masalah. Mestinya, secara logika, akuisisi PSMS dapat berjalan mulus. Apalagi, Pangeran Mohammed bin Salman Al Saud sekaligus juga berencana membangun stadion. Tinggal pilih. Mau stadion semegah milik Manchester City atau Santiago Bernabeau, atau secanggih stadion-stadion yang dipersiapkan untuk memanggungkan piala dunia di Qatar, sama sekali tak jadi soal. Toh duit sang pangeran tidak berseri. Tinggal sebut berapa jumlahnya.

Bahkan, belum-belum, pangeran sudah menyiapkan rencana besar menyangkut strategi. Memang, dia tak muluk mau merekrut pemain-pemain kelas satu Eropa seperti yang dilakukan oleh manajemen klub liga utama China. Namun sejumlah nama pemain bagus yang beredar di Liga Jepang dan Korea sudah masuk radar. Pun pemain-pemain nasional Indonesia.

Pendek kata, di tangan Pangeran Muhammad bin Salman Al Saud, PSMS akan menjelma dream team, menyerupa AC Milan di era 1990-an, atau dua generasi Los Galacticos Real Madrid, atau skuat Barcelona di bawah kepemimpinan Josep Guardiola.

Jadi sekali lagi, apabila ditimbang dengan akal sehat, akuisisi PSMS mestinya lancar. Ini kesempatan untuk lepas dari situasi sulit. PSMS kerap kesulitan dana. Jangankan untuk mengarungi kompetisi, sekadar memenuhi kewajiban membayar gaji pemain, pelatih, dan ofisial saja sering kesulitan. Kabar gaji yang ditunggak sudah tak lagi jadi kabar mengejutkan.

Namun apa lacur. Manajemen PSMS, yang dijalankan dengan sistem dan mekanisme yang hampir-hampir tidak ada bedanya dari kebanyakan organisasi kepemudaan atau majelis taklim, menampik tawaran.

Rapat dipimpin oleh Dewan Pembina dan Dewan Penasihat, memutuskan PSMS harus tetap menjadi milik masyarakat Kota Medan. Bilang mereka, jika Pangeran Mohammed bin Salman Al Saud mau menyuntikkan dana, silakan. Nantinya, nama perusahaan konsorsium Public Investment Fund (PIF), PCP Capital Partners, dan RB Sport & Media akan ditempelkan di seragam PSMS. Barangkali juga akan dipampangkan di sekeliling stadion, di baliho, atau ditampilkan di videotron. Sebatas itu saja. Bagaimana pengelolaan dana tersebut, serahkan sepenuhnya kepada manajemen PSMS yang dibentuk oleh Dewan Pembina dan Dewan Penasihat.

Menurut mereka, PSMS tidak akan bisa dipahami orang luar. PSMS adalah kultur. Adalah budaya. Mengurus PSMS tak dapat dilakukan dengan mekanisme bisnis murni.

Ini sepak bola, bukan perusahaan, bilang mereka. Harus ada cinta di sana. Cinta yang besar. Dengan kata lain, hanya orang-orang yang cinta PSMS yang bisa, dan paling pantas, dan paling kompeten mengurus PSMS. Dan cinta itu, bilang mereka lagi, tidak bisa dibentuk dalam sekejap.

Rencana akuisisi pun batal. Pangeran Mohammed bin Salman Al Saud, yang mendapatkan kabar dari orang-orang kepercayaannya, mengangguk-angguk lalu tertawa panjang. Dari kolega-koleganya, para pembesar dan multi milyuner Timur Tengah yang mengakuisisi Manchester City dan Paris Saint Germain, pangeran tahu bahwa cinta dalam sepak bola telah menjadi noktah yang melankolis. Sekadar mengandalkan cinta, tanpa dibarengi kecakapan manajerial, hanya akan membuat klub masuk tong sampah.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved