Catatan Sepak Bola
Tak Cuma Newcastle United, Pangeran Arab Ternyata Juga Tertarik Beli PSMS Medan
Manajemen PSMS, yang dijalankan dengan sistem yang hampir tak ada bedanya dari kebanyakan organisasi kepemudaan atau majelis taklim, menampik tawaran.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Dengan kata lain, sembari memupuk cinta, kecakapan manajerial mesti dibangun. Orang-orang yang tidak cakap, apalagi tidak becus, jangan diberi ruang apalagi wewenang sebagai penentu kebijakan.
Apakah para pecinta di PSMS memiliki kompetensi? Pangeran Mohammed bin Salman Al Saud kembali tertawa panjang. Ia mendapatkan laporan seperti ini: 'manajemen PSMS terdiri dari pengurus abadi yang telah berulangkali gagal tapi senantiasa memasang muka tebal dan pengurus-pengurus lain yang kemampuan terbaiknya adalah membebek dan angkat telor lantaran takut kehilangan jabatan yang justru tidak ada kaitpautnya sama sekali dengan sepak bola.'
Pangeran pun seketika paham, dan maklum, kenapa klub ini selama bertahun-tahun cuma bisa jadi pecundang.
Tentu saja kisah di atas sekadar imajiner. Sekadar reka-rekaan.
Namun tidak semua. Bagian bahwa PSMS pecundang, dan kepecundangan ini dikarenakan kekolotan cara berpikir dan ketidakbecusan manajerial yang dihuni para penjilat dan orang-orang gagal bermuka tebal, adalah kenyataan yang sama sekali tak dapat dibantah.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pangeran-salman.jpg)