Sosok Manusia Pertama yang Berhasil Menggunakan Jantung Babi

Para Ilmuwan Universitas Harvard dan perusahaan eGenesis sebelumnya berhasil menyingkirkan virus yang bersembunyi di DNA 37 babi.

Editor: AbdiTumanggor
NYU LANGONE VIA BBC NEWS INDONESIA
Ginjal babi dihubungkan dengan pembuluh darah pasien penerima. 

TRIBUN-MEDAN.Com - Pada tahun 2017 lalu, sejumlah peneliti Amerika Serikat telah mulai memodifikasi genetika sekumpulan babi agar bisa menjadi pendonor organ tubuh manusia.

Para Ilmuwan Universitas Harvard dan perusahaan eGenesis sebelumnya berhasil menyingkirkan virus yang bersembunyi di DNA 37 babi.

Virus tersebut selama ini adalah rintangan besar untuk mentransplantasi organ babi ke manusia.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science ini dimulai dengan sel kulit dari babi. Hasilnya, sebanyak 25 virus yang jamak ada pada babi (porocine endogenous retroviruses) - ditemukan tersembunyi dalam kode genetika babi.

Rangkaian eksperimen mencampur sel manusia dan babi menunjukkan bahwa virus tersebut dapat lolos dan menginfeksi jaringan manusia.

Para peneliti kemudian menggunakan teknologi pengeditan gen Crispr untuk menghapus 25 Perv tersebut.

Peneliti juga memakai teknologi kloning, seperti yang digunakan untuk membuat domba kloning bernama Dolly, untuk menempatkan materi genetik dari sel-sel itu ke dalam sel telur babi dan menciptakan embrio. Proses kompleksnya tidak efisien, tapi 37 anak babi sehat telah lahir.

"Ini adalah para babi Perv-free pertama," kata Dr Luhan Yang, salah satu peneliti dari Harvard University dan perusahaan spinout eGenesis, kepada BBC News, pada 12 Agustus 2017 lalu.

Ginjal babi dihubungkan dengan pembuluh darah pasien penerima.
Ginjal babi dihubungkan dengan pembuluh darah pasien penerima. (NYU LANGONE VIA BBC NEWS INDONESIA)

Kabar Menggembirakan di Tahun 2022

Kini di awal Januari 2022, seorang pria Amerika Serikat, David Bennett, menjadi orang pertama di dunia yang mendapatkan transplantasi jantung dari babi yang telah dimodifikasi secara genetik tersebut.

Bennett dalam keadaan baik tiga hari setelah menjalani prosedur eksperimental itu selama tujuh jam di Baltimore.

Dikutip dari BBC News, transplantasi itu dianggap sebagai harapan terakhir untuk menyelamatkan hidup Bennett, meskipun belum jelas bagaimana peluang jangka panjangnya untuk bertahan hidup.

"Pilih mati atau melakukan transplantasi ini," kata Bennet (57) sehari sebelum operasi.

"Saya tahu [prosedur] itu berisiko, tetapi ini adalah pilihan terakhir saya."

Para dokter di Pusat Medis Universitas Maryland diberikan dispensasi khusus oleh regulator medis AS untuk melakukan prosedur tersebut, dengan dasar bahwa Bennett akan meninggal jika tidak dilakukan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved