Jonatan Christie Rutin Dapat Siraman Rohani dari Coach, tentang Rendah Hati sampai Perpuluhan

Jonatan Christie bercerita tentang ragam petuah rohani dari coach Hendry yang menjadi pegangannya hingga kini.

Tayang:
VES LACROIX/BADMINTON PHOTO
Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, melakukan selebrasi usai memenangi pertandingan melawan wakil Malaysia, Ng Tze Yong, pada babak perempat final Thomas Cup 2020 di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Jumat (15/10/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com - Jonatan Christie bercerita tentang ragam petuah rohani dari coach Hendry yang menjadi pegangannya hingga kini.

Kepada Daniel Mananta, pria yang akrab disapa Jojo itu menjelaskan kebiasaan Coach Hendry Saputra selaku pelatihnya.

Pebulutangkis tunggal putra tersebut menceritakan bahwa petuah yang disampaikan Coach Hendry telah ia jadikan sebagai kebiasaan.

"Jadi, sebelum latihan biasanya kan dibacakan program-programnya. Tapi sebelum itu tuh dikasih  siraman rohani dari beliau," ucap Jojo.

"Dia tuh jelasin segi kerohanian dari dalam bulutangkisnya dan kehidupan di luar bulu tangkis,".

"Karena hampir menghabiskan waktu paling banyak sama dia, jadi masuk aja gitu ke hati," kata Jojo.

Jonatan menjelaskan gambaran kerohanian dalam bulutangkis yakni ketika bermain harus konsisten, serta dilarang sombong jika mendapat juara.

Dengan demikian, Jojon bisa menjadikan hal tersebut sebagai pondasinya.

Menurutnya, nasihat Hendry tidak langsung masuk ke hati, perlu waktu untuk bisa lebih mengenal Tuhan.

Salah satunya adalah tentang persepuluhan.

Baca juga: PKS Lantik Perempuan Beragama Kristen Evalina Heryanti sebagai Dewan Pakar

Baca juga: Tangis Nurul Arifin Pecah saat Misa Tutup Peti Putrinya, Keluarga Lambaikan Tangan Perpisahan

Persepuluhan merupakan cara berbagi dengan mengeluarkan nominal 10 persen dari penghasilan yang diterima kepada gereja.

Lama kelamaan Jojo mulai memilah mana orang yang lebih membutuhkan untuk mendapatkan 10 persen penghasilannya tersebut.

Ia pun menceritakan tentang pengalamannya membantu korban kecelakaan asal Solo, seorang anak kecil yang kedua orangtuanya meninggal dunia.

Saat itu, Jojo masih berumur sekitar 15-16 tahun. Ia mendapat informasi dari sosial media, kemudian ia ingin bertemu dengan seorang dokter di Solo yang merawat anak kecil tersebut.

Dibantulah anak kecil tersebut dengan cara persepuluhan yang telah Jojo terapkan sebelumnya di gereja.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved