Breaking News

Nasib Guru Muda 40 Tahun Silam Korban Tabrakan 2 Pesawat, Tubuhnya Sempat Terjun Bebas Sejauh 5 Km

Guru muda sekaligus mahasiswi ini bernama Larisa Savitskaya. Ia baru saja pulang bersama suami saat melakukan tur pernikahan.

Kolase Tribun Medan/Artem Geodakyan/TASS
Larisa Savitskaya dan suami 

TRIBUN-MEDAN.com - Nasib guru muda 40 tahun silam korban tabrakan dua pesawat. Tubuhnya sempat terjun bebas sejauh 5 kilometer.

Guru muda sekaligus mahasiswi ini bernama Larisa Savitskaya. Ia baru saja pulang bersama suami usai melakukan tur pernikahan.

Pesawat sipil yang ditumpangi Larisa Savitskaya, saat itu masih gadis 20 tahun, bertabrakan dengan pesawat militer.

Kejadian itu terjadi pada 24 Agustus 1981, sebuah pesawat pengangkut rudal Tu-16K bertabrakan dengan pesawat penumpang An-24RV, yang terbang dari Komsomolsk-on-Amur (910 kilometer timur laut Vladivostok) ke Blagoveshchensk (860 kilometer barat laut dari Vladivostok).

Dilansir Tribun-Medan.com dari Russia Beyond, Kamis (27/1/2022), tabrakan dua pesawat di langit ini berawal dari Tu-16K mendapat informasi bahwa ada pesawat lain yang harus mereka waspadai di langit.

Tapi pada kenyataannya, kecelakaan pesawat sipil dan militer ini tak terhindarkan.

Pukul 15.21, pesawat bertabrakan di ketinggian 5.200 meter. An-24RV kehilangan bagian atas dan sayapnya, memotong badan Tu-16K di dekat dek penerbangan dengan baling-balingnya. Pesawat-pesawat itu kemudian jatuh dan menabrak taiga.

Tiga puluh tujuh orang tewas, secara rinci ada enam orang awak militer, lima anggota awak An-24RV dan 26 penumpang (termasuk seorang anak). Namun, jumlah total orang di pesawat adalah 38 orang.

Salah satu korban, Larisa Savitskaya, seorang mahasiswa sekaligus pengajar muda berusia 20 tahun, secara ajaib berhasil selamat dari kecelakaan itu.

Larissa Savitskaya ikut penerbangan bersama suaminya, Vladimir. Saat itu kedua pengantin baru ini baru saja pulang dari tur pernikahan dan mengunjungi kerabatnya di Komsomolsk-on-Amur.

Dari pengakuan Larissa Savitskaya, ia awalnya melihat penumpang memasuki pesawat dengan baik, tapi setelah itu ia tertidur akibat kelelahan sepulang dari tur pernikahannya. Ia pun beristirahat di dalam pesawat.

 "Saya sangat lelah, saya bahkan tidak ingat bagaimana kami lepas landas".

Pesawat itu setengah kosong dan pramugari menawarkan beberapa kursi di depan, tetapi mereka memutuskan untuk pergi ke belakang pesawat untuk mengurangi turbulensi.

Hal itu ternyata adalah salah satu keputusan yang menyelamatkan hidup Larisa: “Ketika pesawat terbelah, kursi yang kami duduki pertama putus dan terbang dengan potongan pesawat lain, tidak ada yang akan selamat di sana”.

Detik-detik kecelakaan pesawat

Dia terbangun dari benturan keras. Suhu di dalam kabin kala itu seitar 25 derajat Celcius, tiba-tiba berubah menjadi -30 derajat Celcius, saat bagian atas pesawat terkoyak. Larisa merasakannya seperti terbakar.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved