Repdem Tebingtinggi Ajak Masyarakat Rayakan Imlek dengan Sukacita
Ketua DPC Repdem Tebingtinggi, Sandy mengajak seluruh masyarakat merayakan imlek dengan sukacita.
TRIBUN-MEDAN.COM, SUMUT - Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Relawan Pejuang Demokrasi (Repdem) Tebingtinggi, Sandy mengajak seluruh masyarakat merayakan imlek dengan sukacita.
Menurut Sandy, perayaan Imlek juga kadang disebut Chun Cie (pesta musim semi).
Hal itu erat kaitannya dengan keadaan musim di Cina, di mana masyarakat mengalami perubahan dari musim dingin yang suram menjadi musim semi yang cerah dan sejuk. Serta penuh dengan kehidupan baru dari flora dan fauna.
"Maka kedatangan musim semi sangat disyukuri dan dirasakan patut dirayakan dengan penuh sukacita,"katanya, Jumat (28/1/2022).
Menurut Sandy, perayaan Tahun Baru Imlek 2573 Tahun 2022 sudah semakin dekat. Imlek kali ini masih dirayakan dalam suasana pandemi Covid-19.
"Saudara-saudara suku Tionghoa sudah terlihat sibuk mempersiapkan pernah pernik ataupun nuansa di rumah untuk merayakan pesta yang akan jatuh pada 1 Februari 2022 mendatang," jelasnya.
Sandy mengungkapkan, pada periode 1965-1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum.
Pelarangan ini, kata Sandy dipertegas dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967. Menurutnya, rezim orde baru di bawah pemerintahan Soeharto melarang segala hal yang berbau Tionghoa, diantaranya Imlek.
"Suku Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Tahun Baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tersebut," tambahnya.
Kemudian, lanjut Sandy, Presiden kelima, Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional.
"Mulai 2003, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional," jelasnya.
Sandy menyebutkan, bahwa perayaan Imlek adalah perayaan suku Tionghoa, bukan perayaan suatu agama.
Menurutnya, banyak masyarakat beragama Buddha dan Konghucu berdatangan ke vihara dan kelenteng pada saat perayaan Imlek.
"Mereka mendatangi tempat ibadah untuk sembahyang dan berdoa kepada dewa dan para leluhur. Hal ini makin menguatkan persepsi kalau Imlek adalah termasuk perayaan ritual agama Konghucu atau Buddha," tambahnya.
Dikatakannya, perayaan Imlek sebenarnya merupakan pesta rakyat suku Tionghoa yang sudah menjadi kebudayaan dalam kurun waktu setahun sekali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Sandy.jpg)