Penyu Hijau

Penyu Hijau di Tapanuli Tengah Diambang Kepunahan, Ditemukan Bangkai yang Sudah Membusuk

Penyu hijau yang sering ditemui di pantai Kabupaten Tapanuli Tengah kini diambang kepunahan

Penulis: Rechtin Hani Ritonga | Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/RECHTIN
Kelompok Konservasi Penyu Pantai Bandang (KKP2B) yang merupakan dampingan Yayasan Menjaga Pantai Barat (Yamantab) mengevakuasi bangkai seekor Penyu yang mati mengambang di perairan Pantai Bandang, Desa Rawa Makmur, Kecamatan Kolang, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Selasa (1/3/2022). 

TRIBUN-MEDAN.COM,TAPTENGKelompok Konservasi Penyu Pantai Bandang (KKP2B) yang merupakan dampingan Yayasan Menjaga Pantai Barat (Yamantab) mengevakuasi bangkai seekor penyu di perairan Pantai Bandang, Desa Rawa Makmur, Kecamatan Kolang, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Selasa (1/3/2022).

Bidang Monitoring KKP2B Ronaldo Simare-mare mengatakan, bangkai penyu itu ditemukan berjarak 200 meter dari Pusat Konservasi KKP2B.

"Kemarin malam kita dapat informasi ada penyu mengambang di laut berjarak satu kilometer dari Pusat Konservasi, karena sudah malam, kita putuskan melakukan pencarian di siang hari, dan akhirnya berhasil menemukan bangkai itu," kata Ronal.

Baca juga: Warga di Sumenep Dihebohkan Penemuan Penyu Raksasa Seberat 1 Kwintal

Lebih lanjut Ronal mengatakan, kondisi penyu saat ditemukan sudah membusuk dengan bagian karapas atas terbelah, kepala pecah dan kedua tungkai belakang nyaris terlepas.

"Identifikasi yang kita lakukan, kita duga Penyu mengalami kekerasan, praduganya sengaja dibunuh dan karapasnya dibelah menggunakan alat tajam, terlihat belahan di karapas rapi, ya seperti terkena parang," jelas Ronal.

Sementara itu, Jasman J Mendrofa, bidang SDM KKP2B menambahkan, usai ditemukan dan diidentifikasi, penyu itu berjenis penyu Hhijau dan diduga berjenis kelamin jantan.

"Perkiraan bobot sekitar 40 ke 50 kilogram, panjang 51 centimeter," katanya.

Baca juga: Terombang-ambing 38 Hari di Samudera Pasifik, Satu Keluarga Ini Bertahan Hidup Minum Darah Penyu

Dia menambahkan, usai dilakukan identifikasi dan pencatatan sesuai form yang telah disiapkan, pihaknya melakukan evakuasi dan menguburkan bangkai tak jauh dari pusat konservasi.

Jasman pun mengaku pihaknya menyesalkan hal ini, lantaran seluruh jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Ini berarti segala bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup, mati maupun bagian tubuhnya itu dilarang.

"Bangkai kita tanam dan sudah kita beri penanda sesuai SOP yang kita tetapkan. Kita sungguh menyayangkan kejadian ini," katanya.

Sementara itu, Bendahara Yamantab Dian Iradhani Pribadi menuturkan, atas temuan tersebut pihaknya mengimbau agar tak lagi terjadi kekerasan terhadap mamalia dilindungi itu.

"Perairan Tapteng kan memang menjadi habitat Penyu, dimana saja, kapan saja, tanpa diduga bisa bertemu dengan Penyu," kata Dian.

Karena itu, lanjut dia, pihaknya berharap baik nelayan atau warga yang bertemu Penyu atau mengetahui keberadaan telur penyu untuk tidak mengganggu, menangkap atau memperjualbelikannya.

"Karena keberadaan Penyu di Tapteng tentu menjadi aset berharga yang harus kita jaga dan rawat, itu juga visi besar hadirnya KKP2B yang kita dampingi bersama Desa Rawa Makmur. Kami mengajak ayo selamatkan penyu demi anak cucu," tutup Dian.(cr14/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved